3 Poin Inti Ekspedisi Gunung Pandan 1935:
-
Situs "Kuburan Mamalia" Raksasa: Sisi selatan Gunung Pandan dilaporkan menjadi lokasi penemuan sisa-sisa tulang vertebrata raksasa seperti buaya purba, kuda nil, Stegodon, Mastodon, serta fosil manusia purba Jawa (Pithecanthropus erectus).
-
Diibaratkan Pertarungan Film King Kong: Laporan kolonial tersebut secara menarik menggambarkan kawasan ini sebagai arena pertarungan hewan-hewan raksasa di masa lampau, memberikan sensasi epik persis seperti adegan dalam film legendaris King Kong.
-
Perjalanan Menantang Sebelum Fajar: Ekspedisi geologi ini dipandu langsung oleh ahli geologi Ir. Trooster, di mana rombongan harus berangkat menembus embun pagi sejak pukul 05.00 subuh menempuh rute sejauh 160 km dari Malang.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Gunung Pandan yang berdiri gagah setinggi 897 meter di atas permukaan laut sebagai pembatas wilayah Ngawi-Kertosono dan Kabupaten Bojonegoro, ternyata menyimpan sejarah geologi kelas dunia sebagai "kuburan mamalia" raksasa purba.
Berdasarkan arsip surat kabar kolonial Soerabaijasch handelsblad terbitan 26 Juni 1935 yang tersimpan di situs pangkalan data delpher.nl, gunung berapi purba ini pernah menjadi lokasi ekspedisi besar-besaran Perkumpulan Sejarah Alam (Natuur-historische Vereeniging) cabang Malang untuk meneliti fosil-fosil binatang raksasa, mulai dari Stegodon, Mastodon, hingga manusia purba Pithecanthropus erectus.
Kisah penjelajahan geologi di era Hindia Belanda selalu menyisakan rekam jejak yang mendebarkan. Jika kamu mengira Gunung Pandan hanyalah kawasan pegunungan biasa di antara Nganjuk, Madiun, dan Bojonegoro, catatan masa lalu ini akan mengubah perspektifmu.
Baca Juga: Pemerintah Pusat Lirik Geothermal Gunung Pandan, Diprediksi Menghasilkan Tenaga Listrik 60 Megawatt
Menurut laporan koresponden Soerabaijasch handelsblad pada pertengahan 1935, rombongan ahli dan peminat sejarah alam dari Malang sangat antusias membedah misteri Gunung Pandan. Agar tak kehilangan momen, mereka menjadwalkan keberangkatan pada hari Minggu pagi buta, tepat pukul 05.00 WIB. Rute darat sejauh 160 kilometer dilibas melewati kawasan Ngantang dan Nganjuk hingga tiba di titik kumpul Kelina.
Fokus utama dari perjalanan ekstrem ini murni untuk kepentingan geologi. Para ilmuwan masa itu menjuluki Gunung Pandan sebagai zoogdierkerkhof atau kuburan mamalia. Bayangkan saja, ribuan hingga jutaan tahun yang lalu, kawasan di sebelah selatan gunung ini adalah habitat alami sekaligus arena pertarungan hidup dan mati bagi satwa-satwa purba berukuran raksasa.
Penulis koran tersebut bahkan dengan jenaka, namun penuh kekaguman, menyamakan skala pertempuran hewan-hewan purba di kaki Gunung Pandan ini dengan kebuasan monster raksasa yang baru saja dihidupkan lewat film King Kong (yang memang sedang sangat populer di bioskop-bioskop Hindia Belanda pada dekade 1930-an).
Di lokasi inilah, sejarah bumi menyimpan rapat-rapat fosil Stegodon (gajah purba), Mastodon, kuda nil raksasa, buaya prasejarah, hingga tengkorak Pithecanthropus erectus.
Untuk memastikan para peserta ekspedisi tidak pulang dengan tangan kosong, seorang pakar geologi bernama Ir. Trooster didapuk menjadi pemandu utama yang bertugas memberikan penjelasan ilmiah (eksplanasi geologis) di lapangan secara langsung.
Informasi Tambahan: Kawasan Gunung Pandan dan Pegunungan Kendeng di Jawa Timur memang secara geologis merupakan zona endapan Pleistosen yang sangat kaya akan fosil fauna purba dan hominid. Kamu bisa memverifikasi sejarah dan kekayaan paleontologi di zona Pegunungan Kendeng ini melalui jurnal dan publikasi resmi dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di portal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko