Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, S.E., M.M., Raih Penghargaan Radar Bojonegoro Awards 2026

Dewi Safitri • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 08:30 WIB
MENGINSPIRASI: Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, S.E., M.M., menerima penghargaan The Inspiring Women pada ajang Radar Bojonegoro Awards 2026. (FARHAN REZA/RADAR BOJONEGORO)
MENGINSPIRASI: Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, S.E., M.M., menerima penghargaan The Inspiring Women pada ajang Radar Bojonegoro Awards 2026. (FARHAN REZA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Senyum mengembang mengiringi langkah Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, S.E., M.M., tatkala namanya disebut sebagai penerima penghargaan kategori The Inspiring Woman (Perempuan Inspiratif) Jawa Pos Radar Bojonegoro Awards 2026, Kamis (17/9) di Hotel Aston. Sorot kagum berbalut tepuk tangan tersembahkan untuk sosok yang tiada lelah menebar inspirasi, menghadirkan kepedulian, dan mengabdikan diri untuk kesejahteraan masyarakat tersebut. 

Sama seperti ketika menyapa masyarakat dalam kunjungan kerja ataupun kegiatan-kegiatan formal yang diikuti. Dengan balutan kekayaan Nusantara, batik, Cantika Wahono, begitu kerap disapa, juga mengenakan kain kebanggaan tersebut ketika menerima penghargaan dari media cetak dan online berwilayah edar di Bojonegoro, Lamongan, serta Blora itu.

Bukan sekadar trophy maupun piagam. Lebih dari itu, penghargaan yang diberikan merupakan wujud apresiasi atas kerja nyata yang telah dilakukan. Baik kepedulian yang disampaikan di ruang formal. Maupun yang dilakukan hingga menjamah akar persoalan.

Di desa-desa, Bunda Cantika bersama jajaran Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Bojonegoro kerap turun menemui masyarakat. Berdialog dengan perempuan. Melihat geliat UMKM. Keberlanjutan program pemberdayaan. Menyapa keluarga. Hingga mencermati berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Termasuk kesehatan ibu, anak, maupun kelompok rentan. 

Dukungan kepada disabilitas juga tidak henti diberikan. Anak tidak sekolah (ATS) pun tidak luput dari perhatian. Dia mendatangi, mencermati, memotivasi, dan mencari solusi atas segala persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Kota Ledre ini.

Langkah nyata tersebut berwujud berbagai program yang dijalankan TP PKK Kabupaten Bojonegoro. Salah satu program unggulan, yakni Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) yang dikembangkan dalam skala keluarga. Tidak sekadar beternak, program unggulan PKK tersebut diarahkan untuk mendorong ibu rumah tangga lebih produktif dengan memanfaatkan pekarangan. Telur yang dihasilkan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan protein keluarga sekaligus membuka ruang kemandirian ekonomi.

“Program Gayatri menjadi fokus utama PKK di 2026 ini,” ujarnya. 

DOK. RADAR BOJONEGORO
DOK. RADAR BOJONEGORO

Perhatian terhadap kesehatan keluarga juga menjadi bagian yang begitu lekat dalam gerak TP PKK Kabupaten Bojonegoro. Salah satunya melalui upaya pencegahan dan penanganan stunting yang dilakukan secara bersama-sama, dari tingkat kabupaten hingga desa.

Bunda Cantika tidak sekadar mengajak kader berbicara tentang stunting dalam ruang-ruang pertemuan. Ia turun langsung menyambangi masyarakat. Memberikan perhatian kepada balita stunting, ibu hamil kurang gizi, sekaligus mendorong kader PKK untuk menjadi ujung tombak edukasi dan pendampingan gizi di tengah keluarga.

Pada Juli 2025, misalnya, Bunda Cantika turun dalam kunjungan kerja di Desa Jelu, Kecamatan Ngasem, sekaligus menyerahkan makanan tambahan bagi balita stunting, ibu hamil kurang gizi, dan lansia. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa penurunan stunting merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan Kabupaten Bojonegoro.

Langkah serupa juga dilakukan di Kecamatan Malo. Bantuan gizi dan makanan tambahan diberikan kepada anak stunting. Pendampingan tersebut sekaligus dibarengi dengan dorongan kepada kader PKK agar terus memberikan informasi, edukasi, dan pendampingan gizi kepada masyarakat, mulai dari masa kehamilan, persalinan, hingga tumbuh kembang anak.

Di tingkat keluarga, upaya pencegahan juga terus diperkuat. PKK mendorong penguatan Posyandu di desa dan kelurahan sebagai bagian dari peningkatan kesehatan ibu dan anak. Kader didorong menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat serta berbagai langkah pencegahan stunting, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Pemenuhan gizi juga diperkuat melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Sebagai Ketua TP PKK sekaligus Ketua Forikan Kabupaten Bojonegoro, Bunda Cantika mendorong konsumsi protein hewani dari ikan sejak masa kehamilan, 1.000 Hari Pertama Kehidupan, balita, hingga masa pertumbuhan anak. Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki asupan gizi sekaligus mendukung upaya penurunan prevalensi stunting.

Kerja yang dilakukan secara berkelanjutan itu menunjukkan hasil. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro yang dirangkum dalam laporan capaian kesehatan 2025 mencatat prevalensi balita stunting turun dari 2 persen pada 2024 menjadi 1,82 persen pada 2025. Pada tahun yang sama, Kabupaten Bojonegoro juga dinyatakan memiliki kinerja terbaik dalam percepatan penurunan stunting tingkat nasional.

Capaian tersebut kembali tercatat dalam daftar prestasi resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Pada 12 November 2025, Bojonegoro menerima penghargaan kinerja terbaik dalam penurunan stunting dan memperoleh Dana Insentif Fiskal Tahun 2025 kategori kinerja penurunan stunting sebesar Rp5.902.726.000.

Gerak pemberdayaan berlanjut, melalui Dekranasda Kabupaten Bojonegoro. Penguatan perajin dilakukan tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga membuka akses promosi dan pasar yang lebih luas. 

Sepanjang 2026, produk batik, kerajinan kayu, dan aksesori karya pelaku UMKM Bojonegoro dibawa ke sejumlah pameran. Mulai INACRAFT 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Februari 2026, Pameran HUT ke-46 Dekranas di Kota Makassar pada Juli 2026, hingga Kriyanusa 2026 pada akhir September tahun ini untuk membidik pasar ekspor.

Dekranasda juga mendorong regenerasi perajin melalui pelatihan membatik bagi 14 anak tidak sekolah di Temayang. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan batik sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi generasi muda.

Dampak nyata terasa. Usai gelaran spektakuler, Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026, pembelian dan permintaan batik Bojonegoro tercatat meningkat. Pembinaan pun diperkuat melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas produk, desain, branding, pemasaran digital, hingga kesiapan menuju pasar internasional.

Tidak hanya menyentuh persoalan kesehatan dan pemberdayaan. Sebagai Bunda PAUD Kabupaten Bojonegoro, perhatian terhadap anak usia dini menjadi bagian penting dari pengabdian Bunda Cantika.

Baginya, pendidikan anak usia dini sebagai pondasi penting pembentukan karakter generasi masa depan. Ia aktif mendorong sinergi pemerintah, pendidik, dan keluarga untuk menghadirkan PAUD yang berkualitas dan ramah anak. Aksinya diwujudkan melalui penguatan kapasitas guru, termasuk literasi digital dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Perhatian terhadap literasi anak juga diwujudkan melalui peluncuran 1.000 buku cerita bergambar karya guru PAUD. Selain itu, praktik baik seperti GPS Jempol (Gerakan Pentingnya Sekolah Jemput Peluang) dan Terasku (Tindakan Cerdas Sekolah dan Guru) menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan serta memperkuat kolaborasi orang tua dan guru. (ewi)

Editor : Andhika Feriawan
Radar Bojonegoro Award 2026 penghargaan cantika wahono Sri Budi Cantika Yuli TP PKK