Obor Sewu Jadi Penggerak Ekonomi Warga Samin di Bojonegoro

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 14:28 WIB
OBOR SEWU: Udeng motif obor sewu Saminsurosentiko ini akan digunakan ASN Pemkab Bojonegoro di hari tertentu. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)
OBOR SEWU: Udeng motif obor sewu Saminsurosentiko ini akan digunakan ASN Pemkab Bojonegoro di hari tertentu. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Motif batik Obor Sewu tak sekadar menjadi identitas budaya masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Sejak digunakan sebagai bagian dari pakaian dinas harian (PDH) adat Samin bagi aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Bojonegoro, motif tersebut turut membuka peluang ekonomi bagi warga.

Penggunaan PDH Adat Samin itu mengacu pada Surat Edaran (SE) Bupati Bojonegoro Nomor 065/378/412.032/2025 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Harian (PDH) Adat Samin di Lingkungan Pemkab Bojonegoro Tahun 2025.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas dan kebanggaan daerah. Sekaligus mendukung visi Terwujudnya Bojonegoro Makmur dan Membanggakan, khususnya Misi Kelima tentang pemajuan kebudayaan dan kebanggaan daerah.

Baca Juga: Kisah Menarik di Balik Makna Batik Obor Sewu, Warisan Sedulur Sikep Samin dari Desa Margomulyo Bojonegoro

Obor Sewu sendiri memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan nilai kehidupan masyarakat Samin. Penerus sesepuh Sedulur Sikep Samin, Bambang Sutrisno, menjelaskan, nama Obor Sewu berasal dari kisah perjalanan Samin Surosentiko ketika mengumpulkan para pengikutnya.

Saat itu, penerangan yang digunakan berupa obor. Sementara kata sewu bermakna seribu atau menggambarkan jumlah yang banyak.

“Obor itu lampu, sewu itu bermakna banyak. Jadi cita-citanya bagaimana agar pitutur Mbah Samin menjadi penerang generasi selanjutnya,” ujar Bambang saat dikonfirmasi Rabu (23/9).

Filosofi tersebut membawa nilai-nilai luhur yang selama ini hidup di tengah masyarakat Samin. Di antaranya jujur, sabar, nrimo, dan trokal. Bambang menjelaskan, trokal bermakna tidak mudah putus asa dan terus memiliki semangat dalam menjalani kehidupan.

Penggunaan motif Obor Sewu pada PDH ASN membuat keberadaan motif tersebut semakin dikenal masyarakat luas. Banyak warga dari luar komunitas Samin mulai tertarik mengetahui sejarah, filosofi, ajaran, serta adat yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Dampaknya ikut terasa pada permintaan produk. Sebelum digunakan sebagai bagian dari PDH ASN, batik Obor Sewu belum dipasarkan secara luas di luar komunitas Samin. Mereka yang ingin mendapatkan produk tersebut diarahkan datang langsung ke komunitas Samin di Dusun Jepang.

Setelah kebijakan diterapkan, permintaan meningkat. Kondisi itu turut mendongkrak omzet penjualan dan memberikan dampak ekonomi bagi pembatik maupun penjahit yang terlibat.

“Dulu kita konsep bahwa Obor Sewu tidak dijual di pasar luar. Artinya, orang yang ingin Obor Sewu harus datang ke komunitas masyarakat Samin. Jadi, bisa menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka yang memakai Obor Sewu karena sebagai bukti beliau sudah pernah datang ke komunitas masyarakat Samin,” jelas Bambang.

Kini, produk Obor Sewu juga mulai dikenalkan di lingkungan pendidikan. Salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro mengenalkan motif tersebut kepada mahasiswa baru. Mahasiswa perempuan menggunakan selendang Obor Sewu, sedangkan mahasiswa laki-laki mengenakan udheng Obor Sewu.

Dari sisi harga, kain Obor Sewu dibanderol sekitar Rp160 ribu. Sementara udheng sekitar Rp70 ribu dan selendang Rp40 ribu.

Meningkatnya permintaan juga membuka ruang kerja bagi masyarakat. Saat permintaan tinggi, lebih dari 50 orang sempat terlibat dalam proses membatik dan menjahit. Kini, sekitar 30 hingga 40 orang masih aktif dalam produksi tersebut.

Pembatik tetap berasal dari masyarakat Samin Margomulyo. Sedangkan proses menjahit melibatkan warga dari sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Ngraho. Artinya, geliat Obor Sewu tak hanya memberikan tambahan penghasilan bagi pembatik, tetapi juga membuka peluang pekerjaan bagi penjahit.

Baca Juga: Batik Obor Sewu Khas Masyarakat Samin Bojonegoro Melenggang ke Gedung Negara Grahadi Surabaya

Bahkan, meningkatnya permintaan membuat sebagian masyarakat Samin yang sebelumnya belum mengenal proses membatik mulai tertarik belajar. Paguyuban batik di Bojonegoro juga sempat membantu memenuhi kebutuhan produksi ketika permintaan meningkat.

Saat ini, permintaan Obor Sewu masih berjalan. Rata-rata terdapat satu hingga dua pesanan setiap hari. Aktivitas tersebut menjadi tambahan penghasilan bagi warga sekaligus menjaga keterampilan membatik tetap hidup di lingkungan masyarakat Samin.

Keberadaan Obor Sewu juga mendapat pengakuan melalui pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor 000160986. Karena memiliki kedudukan khusus sebagai identitas budaya masyarakat Samin Margomulyo, proses pembatikan tetap dilakukan oleh masyarakat Samin setempat.

Ketentuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keaslian, karakter, dan nilai filosofis motif Obor Sewu meski kini semakin dikenal di luar komunitas Samin.

Bagi masyarakat Samin, meluasnya penggunaan Obor Sewu pada akhirnya bukan hanya soal batik. Motif tersebut menjadi pintu untuk mengenalkan sejarah, ajaran, dan nilai budaya kepada masyarakat lebih luas. Di saat yang sama, aktivitas membatik dan menjahit membuat pelestarian budaya berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi warga. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
obor sewu Adat bojonegoro batik samin