RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabar bagus untuk petani tembakau. Harga tembakau rajang kering di tingkat petani mulai mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Saat ini, harganya mencapai Rp 45 ribu per kilogram (kg).
Harga tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang pada petikan serupa hanya berkisar Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kg.
"Harga sekarang Rp 44 ribu per kg untuk rajang kering. Ini sudah unduhan kelima. Rata-rata di sini Rp 45 ribu per kg," kata Sahdan, petani tembakau asal Desa Genjor, Kecamatan Sugihwaras, Kamis (27/8).
Dia mengatakan, pada petikan pertama, harga tembakau masih berada di kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 36 ribu per kg. Sedangkan harga saat ini tergolong bagus jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Sebagai perbandingan, harga tembakau pada petikan kelima tahun lalu hanya sekitar Rp 35 ribu per kg dan maksimal mencapai Rp 40 ribu per kg.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Petani Bojonegoro Keluhkan Panen Tembakau Tidak Optimal
"Harga sekarang termasuk bagus kalau dibandingkan tahun kemarin," imbuhnya.
Sementara itu, Sekjen Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Mahmudi menyampaikan, harga tembakau di tingkat petani saat ini lebih tinggi dibandingkan harga di gudang. Di gudang, harga tembakau berkisar Rp 36 ribu hingga Rp 51 ribu per kg. Sedangkan di tingkat petani berada di kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 52 ribu per kg.
"Namun, yang dimainkan gudang Rp 43 ribu sampai Rp 47 ribu per kg," katanya.
Mahmudi menambahkan, pasokan tembakau masih terbatas karena belum memasuki puncak panen raya. Panen raya diprediksi berlangsung pada pertengahan September mendatang.
Untuk wilayah Bojonegoro, lanjut dia, panen tembakau sudah hampir merata. Namun, produksi belum mencapai puncaknya.
"Hampir merata (panen di Bojonegoro, Red.), tetapi belum puncak. Puncaknya diperkirakan pertengahan September," imbuh pria asal Lamongan tersebut.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, kenaikan harga tembakau rajang kering hingga Rp 44 ribu-Rp 45 ribu per kg patut disyukuri petani.
Namun, dia belum dapat memastikan apakah harga tersebut akan bertahan hingga puncak panen raya atau justru mengalami penurunan. Menurutnya, kondisi cuaca akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga tembakau.
"Saya kira semua tergantung cuaca. Jika sampai puncak panen cuacanya seperti ini, bisa jadi harga malah naik. Namun, jika hujan sudah turun, bisa jadi harga juga turun," pungkasnya. (yna/zim)
Editor : Bhagas Dani Purwoko