Daging Sapi Langka, Jagal Tutup Usaha, Pedagang Sepakat Tutup

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:45 WIB
DAGING DARI LUAR: Pedagang daging tetap berjualan setelah mendapatkan stok dari Kabupaten Tuban. Semua jagal sapi di Bojonegoro sepakat tidak menyembelih sapi kemarin (20/8). (HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)
DAGING DARI LUAR: Pedagang daging tetap berjualan setelah mendapatkan stok dari Kabupaten Tuban. Semua jagal sapi di Bojonegoro sepakat tidak menyembelih sapi kemarin (20/8). (HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM— Lapak daging di sejumlah pasar di Bojonegoro tampak tutup kemarin (20/8). Penyebabnya, sapi siap potong langka, jagal berhenti menyembelih, dampaknya pedagang daging sapi sepakat tidak beroperasi. Karena tidak ada suplai dari jagal sapi.

Sebagian pedagang daging beroperasi, setelah mendatangkan daging dari luar kota.
Nur Hasan, salah satu penjagal sekaligus pedagang daging sapi mengatakan, terpaksa menutup lapak karena kesulitan memperoleh sapi. "Mau bagaimana lagi, harga melambung tinggi, tapi juga sulit mendapatkan barang," ujar pria asal Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas itu.

Baca Juga: PDAM Tirta Buana Klaim Perbaikan Selesai, Pelanggan Masih Keluhkan Air Mampet

Dia melanjutkan, kondisi kian parah sejak dua minggu terakhir. Kini, harga mencapai Rp 23 juta sampai Rp 25 juta per ekor. Sementara, harga daging per kilogram (kg) sebelumnya berkisar Rp 105 ribu untuk kelas tiga, Rp 115 ribu kelas dua, dan Rp 125 ribu kelas satu. 
Selisih Rp 10.000 per grade atau kualitasnya. Namun, harga saat ini mencapai Rp 140 ribu per kg untuk kelas satu.

"Saat ini masih rundingan dengan supplier terkait harga. Sedangkan, biasanya itu setiap harinya memotong satu ekor. Harapan kami semoga kondisi ini cepat teratasi," keluh pria yang kini berjualan di Pasar Wisata pascaproses pembangunan Pasar Kota itu. 

Ketua Paguyuban Jagal Sapi Bojonegoro Agus Sutiyono menyampaikan, keputusan meliburkan diri puluhan pedagang sejak kemarin itu diambil lantaran semakin sulit mendapatkan sapi siap potong. Dia menggarisbawahi, aksi penutupan usaha sementara itu bukan demonstrasi, melainkan upaya meminta perhatian pemerintah kabupaten (pemkab) terhadap kondisi peternakan sapi di Kota Ledre ini. 

Baca Juga: Pemdes Butuh Kejelasan, Rencana Proyek Jalur Lingkar Selatan Bojonegoro

"Kami tidak demo, tapi ingin meminta solusi karena kondisi atau stok sapi siap potong ini langka. Penutupan kios atau lapak mulai hari ini (kemarin, red) bisa sampai tiga hari, lima hari, bahkan seminggu. Sampai waktu tidak ditentukan. Kalau jumlah penjagal dan pedagang di bawah paguyuban ini ada 35 orang. Semua tutup," tegas dia. 

Menurut dia, kelangkaan sapi siap potong ini disebabkan minimnya ketersediaan di tingkat peternak. Mulai terasa setelah Idul Adha lalu, ketika banyak peternak menjual sapi untuk memenuhi kebutuhan kurban. Sehingga peternak membutuhkan waktu untuk kembali mengisi kandang dengan sapi bakalan. Akibanya, stok sapi menipis. 

"Selain itu, dua tahun lalu kalau kan ada PMK (penyakit mulut dan kuku) yang membuat semangat petani dalam merawat sapi juga lesu. Banyak dari mereka takut ternak mati. Trauma merawat sapi, padahal sekarang harusnya panen," ujar pria domisili Gang Buyut Pani, Kecamatan Kota itu. 

Baca Juga: Dedikasi Tanpa Kompromi, Melangkah Bersama 70 Juta Jam Kerja Selamat Lapangan Gas JTB

Persoalan tersebut, lanjut Agus, diperparah dengan banyaknya pembeli dari luar daerah. Karena menilai harga sapi relatif lebih murah sehingga menarik minat pembeli. Menurut dia, hal ini membuat persaingan semakin ketat. Para penjagal lokal kesulitan memperoleh hewan untuk memenuhi kebutuhan pasar daging. 

"Jadi, kami meminta pemkab agar memikirkan solusi untuk permasalah ini. Dibawa ke pusat untuk mencukupi kebutuhan daging sapi di kota-kota besar terutama, jadi tidak mengambil ke daerah seperti Bojonegoro," ujar dia. 

Dia menambahkan, kondisi ini berdampak signifikan bagi ekonomi. Kenaikan harga sangat berpengaruh. Bahkan, keluh dia, sering kali rugi. Balik modal sudah sukur. "Setiap hari itu akhir-akhir bisa rugi Rp 1 juta, Rp 2 juta, bahkan bisa Rp 3 juta. Tapi bagaimana lagi," keluhnya. (yna/msu)

Editor : Hakam Alghivari
Sapi daging bojonegoro langka mahal