Bahkan sebagian desa yang berpotensi terdampak belum mengetahui secara rinci pelaksanaan dan lokasi. Hanya menunggu kejelasan dari pemerintah kabupaten (pemkab).
Kades Bendo, Kecamatan Kapas Bambang Caroko mengatakan, di desanya baru dilakukan pendataan kepemilikan tanah. Sementara, terkait sosialisasi masih menunggu informasi selanjutnya.
"Belum ada (luas lahan yang kemungkinan terdampak, red), masih menunggu sosialisasi karena lokasi berpindah-pindah," katanya terpisah.
Menurut dia, perpindahan lokasi itu sudah ketiga kalinya terjadi. Sehingga belum tahu mana yang valid. "Seperti ini (pindah lokasi) sudah tiga kali, yang mana yang valid belum tahu. Intinya menunggu sosialiasi dulu," ujar dia.
Baca Juga: JLS Mulai Desa Kabunan hingga Ngablak, Melintasi 16 Desa di Empat Kecamatan
Kepala Desa (Kades) Mojoranu, Kecamatan Dander Lukman Hakim mengatakan, belum ada sosialiasi pengadaan tanah di desanya. Namun, sudah dijadwalkan. "Iya, kemarin ada tim dari UGM (Universitas Gadjah Mada) survei lokasi ke Desa Mojoranu," katanya
Sementara itu, Kades Kabunan, Kecamatan Balen Mochammad Yahya mengaku, sudah ada sosialisasi dari organisasi pemerintah daerah (OPD) terkait. Proyek strategis daerah itu menyasar sekitar 175 bidang dengan 150 kartu keluarga (KK).
"Tetap mendukung, yang di bawah flyover (jalan layang) dibuat taman terbuka hijau supaya tampak asri," harap dia.
Kades Sidodadi, Kecamatan Sukosewu Doni Prasetion juga membenarkan, desanya masuk dalam rencana pembangunan JLS. Sosialiasi pada 13 Agustus lalu. Dia menyatakan, mendukung kegiatan tersebut untuk kelancaran lalu lintas (lalin). "Dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat khususnya Desa Sidodadi dan warga Bojonegoro pada umumnya," kata Doni, sapaannya. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah