Gen Z Sumbang 696 Perkara Perceraian di Bojonegoro

Dewi Safitri • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:40 WIB
Ilustrasi Perceraian (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Perceraian (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Angka perceraian di Bojonegoro masih didominasi pasangan usia produktif. Namun, perkara perceraian yang melibatkan pasangan dari generasi Z (Gen Z) juga cukup tinggi. Hingga 10 Agustus 2026, tercatat 696 perkara perceraian melibatkan pasangan Gen Z.

Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro, total terdapat 2.033 perkara perceraian hingga 10 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, perkara yang melibatkan generasi milenial atau kelompok usia 30–45 tahun mendominasi dengan 50,2 persen atau 1.020 perkara.

Selanjutnya, perkara yang melibatkan Gen Z berusia 14–29 tahun mencapai 34,2 persen atau 696 perkara. Kemudian, generasi X (46–61 tahun) sebanyak 14,1 persen atau 286 perkara. Sementara itu, kelompok baby boomer berusia di atas 62 tahun mencapai sekitar 3 persen atau 62 perkara.

Panitera PA Bojonegoro Sholilin Jamik mengatakan, kategori Gen Z merujuk pada kelompok yang lahir sekitar 1997 hingga 2012. Dengan demikian, rentang usia Gen Z saat ini sekitar 14–29 tahun.

Baca Juga: Angka Perceraian di Bojonegoro Meningkat: Enam Bulan Tercatat 1.607 Perceraian Rerata Lulusan SMP dan SMA

Menurut dia, terdapat sejumlah faktor sosial yang membuat pernikahan pada usia muda lebih rentan menghadapi perceraian. Salah satunya faktor internal akibat fear of missing out (FOMO) atau dorongan untuk mengikuti tren dan lingkungan, sehingga kesiapan mental maupun finansial belum sepenuhnya matang.

Ekspektasi berlebihan terhadap kehidupan rumah tangga yang terbentuk dari standar media sosial juga dapat menjadi pemicu. Gambaran kehidupan pasangan yang ideal di media sosial kerap tidak sesuai dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Selain itu, kemampuan komunikasi dan manajemen konflik yang belum matang turut menjadi persoalan. Menurut Sholilin, sebagian pasangan muda belum terbiasa menghadapi konflik melalui kompromi dan komunikasi langsung.

“Gen Z paling jago ngomong di chat. Namun, saat bertengkar langsung, diam-diaman, main HP, atau bahkan mengajak pisah. Jarang dilatih kompromi dan mengalah,” bebernya.

Perubahan sosial, lanjut Sholilin, turut membuat pilihan untuk bercerai semakin terbuka. Akses informasi mengenai hak dalam rumah tangga, kekerasan dalam rumah tangga, hingga hubungan yang tidak sehat kini semakin mudah diperoleh.

Di sisi lain, stigma terhadap perceraian di masyarakat juga perlahan menurun. Kondisi tersebut membuat pasangan yang merasa hubungan rumah tangganya sudah tidak sehat lebih berani mengambil keputusan untuk berpisah.

Faktor ekonomi juga tidak kalah berpengaruh. Kebutuhan rumah tangga yang meningkat, biaya pengasuhan anak, serta pendapatan yang belum stabil dapat memicu tekanan dalam rumah tangga. Persoalan tersebut semakin kompleks bagi pasangan muda yang sama-sama bekerja, tetapi masih menghadapi tantangan pembagian peran dan pengasuhan anak.

“Gen Z lebih memegang prinsip menikah untuk bahagia bersama, bukan sekadar bertahan. Kalau sudah tidak membuat bertumbuh, tidak saling menghargai, banyak yang memilih berpisah baik-baik. Daripada bertahan, tetapi tersiksa,” ungkapnya.

Baca Juga: Empat Perkara Perceraian Diajukan dengan Alasan Cacat Badan

Menurut Sholilin, tingginya perkara perceraian yang melibatkan Gen Z tidak serta-merta menunjukkan generasi tersebut lebih lemah dalam mempertahankan rumah tangga. Fenomena tersebut lebih berkaitan dengan perubahan zaman, pola pikir, serta kondisi sosial dan ekonomi.

“Lebih cepat menikah, ekspektasi tinggi, akses keluar lebih mudah, dan tekanan ekonomi. Hal tersebut merupakan resep rawan perceraian,” pungkasnya. (ewi/zim)

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Ekonomi bojonegoro rumah tangga Gen Z perceraian