JLS Mulai Desa Kabunan hingga Ngablak, Melintasi 16 Desa di Empat Kecamatan

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi dan grafis JLS Bojonegoro. (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi dan grafis JLS Bojonegoro. (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (DPUBMPR) Bojonegoro masih belum membeberkan data rencana proyek jalur lingkar selatan (JLS).

Rencana pembebasan lahan dengan dengan pagu Rp 30 miliar dari P-APBD 2026 itu, masih tahap sosialisasi di desa yang bakal dilintasi.

Berdasarkan informasi di lapangan, ada 16 desa yang akan dilintasi, dari arah Babat menuju Cepu. Mulai Desa Kabunan hingga Ngablak.

Baca Juga: Luas Tanam Tembakau Belum Capai Target, Luasan Masih Bisa Bertambah dan Sebagian Petani Mulai Panen

Rencana jalurnya juga berubah, dari sebelumnya. Flyover (jalan layang) sisi barat direncanakan di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, bergeser di Desa Ngablak, Kecamatan Dander. 

Sementara, lokasi flyover di ujung timur tidak berubah, tetap direncanakan di Desa Kabunan, Kecamatan Balen.

‘’Saya tidak paham,’’ kata Toni, salah satu warga Desa Kedaton, Kecamatan Kapas.

Baca Juga: Satpol PP Tutup Sementara Galian C Desa Drokilo Kecamatan Keduungandem

Sesuai tahapannya, sosialisasi JLS kemarin (13/8) di Desa Kedaton, Kecamatan Kapas. Namun, rerata warga masih belum memahami rencana proyek pemkab yang dibiayai APBD itu.

Sementara itu, Sekretaris DPUBMPR Bojonegoro Biyanto masih irit bicara, bahkan beralasan belum pegang datanya. Sehingga, tidak bisa membeberkan nama desa dan anggarannya. "Empat kecamatan dari Kecamatan Balen, Kapas, Sukosewu, dan Dander. Ada 16 desa," katanya tanpa menyebut nama desanya.

Dia menegaskan, saat ini masih proses sosialisasi penyusunan dokumen perencanaan pengadaan tanah (DPPT) di belasan desa itu untuk penerbitan penetapan lokasi (penlok).

Mantan Camat Balen  itu berkilah, ada pembangunan rest area turut proyek JLS ini. Tapi, belum menjelaskan titiknya. "Yang jelas, rest area rencananya hanya satu," imbuh pria kelahiran 1969 itu.

Seperti diketahui, JLS merupakan proyek infrastruktur strategis pemkab yang beberapa kali gagal sejak 2007. Namun, baru diseriusi sekitar tahun ini. Jalan ini digadang mampu mengurai kepadatan arus lalu lintas di area perkotaan. Juga, merangsang pertumbuhan ekonomi baru sepanjang jalurnya.

Pemkab memproyeksikan realisasi tahun depan. Pembebasan lahannya dimulai akhir 2026 ini. Anggaran digelontorkan Rp 30 miliar di perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (P-APBD) 2026.

Baca Juga: Bojonegoro Langganan Bencana Kekeringan, Krisis Air di 18 Desa, Tersebar di 10 Kecamatan

Pemkab dalam perencanaan mengga Pusat Kajian Lembaga Kerja Sama Fakultas Teknik (LKFT) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Melansir laman resmi Pusat Kajian LKFT UGM, JLS membentang sekitar 19 kilometer (KM). Dibangun empat jalur dengan sayu media. Right of way (ROW) atau total lebarnya 26 meter.

Salah satu elemen utama, yakni flyover di ujung barat dan timur. Bertipe trompet untuk melintasi jalur rel kereta api Surabaya-Semarang dan Jalan Nasional Babat-Bojonegoro-Cepu. (yna/msu)

Editor : Hakam Alghivari
sukosewu dander bojonegoro balen JLS