RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pembangunan jalur lingkar selatan (JLS) berpotensi memakan banyak lahan. Data terbaru, setidaknya melintasi 16 desa di empat kecamatan. Pemkab menganggarkan Rp 30 miliar (M).
Rencana pembebasan lahan itu terus dimatangkan, dengan sosialisasi ke desa-desa yang akan dilintasi JLS.
"Saat ini tahap sosialiasi guna penyusunan dokumen perencanaan pengadaan tanah atau DPPT," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (PUBMPR) Bojonegoro Chusaifi Ivan, kemarin (11/8).
Dia melanjutkan, sosialiasi penyusunan DPPT menyasar 16 desa di empat kecamatan meliputi Kecamatan Balen, Kapas, Sukosewu, dan Dander. Saat ditanya lebih lanjut terkait nama desa-desanya, Ivan mengatakan, tidak hafal. "Saya tidak hafal nama-nama desanya," ujarnya Pukul 16.40 kemarin.
Dia melanjutkan, untuk tahun ini dilakukan tahap detail engineering design (DED) dan penyusunan DPPT. Sementara, untuk pengadaan tanah dianggarkan bertahap mulai di Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) 2026. "Dianggarkan Rp 30 miliar di P-APBD 2026. Bertahap," imbuhnya.
Dia mengaku, belum bisa memastikan dana dianggarkan bisa dieksekusi kapan. Menurutnya, tergantung kecukupan anggaran pemerintah kabupaten (pemkab). "Belum bisa memastikan. Tergantung kecukupan anggaran pemkab," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemkab Bojonegoro mendadak menerima dana transfer dari pemerintah pusat Rp 74,9 miliar, kurang bayar dana bagi hasil (DBH) 2023 pada Jumat (7/8).
Rencana realisasi JLS kembali digenjot. Salah satunya menggeber sosialisasi di desa yang bakal dilintasi, termasuk di Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander Senin (10/8)
Dalam surat bernomor 500.17/2216/412.203/2026, sosialisasi dokumen rencana pengadaan tanah (DPPT) digelar 10-21 Agustus. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah