Di sejumlah ruas jalan perkotaan, warna bunga tabebuya mencolok di antara hijaunya pepohonan. Warga yang melintas pun dapat menikmati keindahannya. Namun, keberadaan tabebuya tidak semata untuk mempercantik wajah kota.
Pohon yang dikenal memiliki bunga menyerupai sakura tersebut juga memiliki fungsi ekologis sebagai bagian dari ruang terbuka hijau perkotaan.
Baca Juga: Tabebuya Mulai Bermekaran di Bojonegoro, Pohon Rusak Diganti dengan Pohon Pule
Divisi Database dan Knowledge World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jawa Timur Endang Priyantini mengatakan, secara umum manfaat tabebuya tidak jauh berbeda dengan pohon lainnya. Di antaranya menghasilkan oksigen, menyerap polusi udara dan polutan dari asap kendaraan, serta membantu mencegah erosi.
"Mengingat tabebuya ini ditanam di ruas jalan kota, salah satu manfaatnya menyerap polusi udara atau polutan asap kendaraan," ujarnya.
Menurut aktivis lingkungan asal Kecamatan Sumberrejo tersebut, tabebuya memiliki karakter perakaran yang relatif tidak agresif. Kondisi itu membuat risiko kerusakan terhadap struktur tanah maupun bangunan di sekitarnya cenderung lebih kecil dibandingkan pohon berukuran besar dengan karakter akar yang agresif.
Selain itu, tabebuya relatif mudah dalam perawatannya.
"Ada sedikit perbedaan, kalau tabebuya ini akarnya tidak merusak struktur tanah atau bangunan sekitar," terangnya.
Baca Juga: Mekarnya Bunga Tabebuya Hiasi Bojonegoro, Hadirkan Suasana Layaknya di Jepang
Keberadaan pepohonan di kawasan perkotaan juga memiliki fungsi penting dalam mengendalikan iklim mikro. Hal tersebut semakin terasa saat musim kemarau ketika suhu udara meningkat dan paparan sinar matahari terasa lebih terik.
Menurut Endang, keberadaan tabebuya memberikan dua manfaat sekaligus. Selain membantu menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih nyaman, bunga yang bermekaran juga memberikan nilai estetika bagi warga.
"Dapat manfaat pohonnya sebagai pengendali iklim mikro dan juga pemandangan cantik bunganya," jelasnya. (ewi/zim)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah