RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Alas Institute menggelar Jagongan Lingkungan (Jagling) di TPS 3R Srawung Makmur, Desa/Kecamatan Trucuk pada Jumat (7/8) lalu. Jagling tersebut digelar untuk mendiskusikan tata kelola sampah di Bojonegoro. Terlebih permasalahan sampah menjadi masalah serius yang tak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Namun perlu kolaborasi dan sinergisitas berbagai stakeholder dan masyarakat umum.
Jagling dihadiri Kepala Desa Trucuk beserta perangkat desa, pengurus Bank Sampah, pengelola TPS 3R, Komunitas MAPAK Sukosewu, KPI, NGO, BEM, organisasi kemahasiswaan (ORMEK), serta sejumlah jurnalis.
Kepala Desa Trucuk Sunoko mengatakan kondisi pengelolaan sampah yang masih memerlukan perhatian serius. Sehingga dibutuhkan gerakan dan kolaborasi bersama seluruh elemen masyarakat.
Malik salah satu peserta diskusi menjelaskan pendekatan berbasis budaya lebih mudah diterima masyarakat. Menurutnya, tradisi seperti arisan dapat menjadi pintu masuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah.
Baca Juga: TPS 3R Desa Trucuk dan Komunitas Arisan Sampah MAPAK Bojonegoro Belajar Pengelolaan Sampah di Malang
"Komunikasi lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan. Budaya yang sudah hidup di masyarakat bisa menjadi kekuatan untuk mengubah perilaku," ungkapnya.
Forum kemudian dilanjutkan dengan berbagi praktik baik oleh Komunitas arisan sampah Mapak Kec. Sukosewu melalui program Arisan dan sedekah Sampah, sebuah inovasi yang memanfaatkan budaya arisan sebagai media membangun kebiasaan memilah dan menabung sampah dari rumah tangga.
Sementara itu, Adib dari YDTI mengapresiasi berbagai gerakan masyarakat yang telah berjalan. Ia juga mencontohkan praktik di Kecamatan Ngasem, di mana hasil pengelolaan sampah dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk membantu pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) melalui mekanisme yang disepakati masyarakat. Selain itu, ia juga memperkenalkan konsep infak sampah, yakni kebiasaan menyisihkan sampah yang masih bernilai ekonomi sebagai bentuk sedekah untuk mendukung kas masjid.
Dari diskusi tersebut, peserta menyepakati beberapa rekomendasi bersama, yaitu mendorong lahirnya gerakan pengelolaan sampah berbasis budaya lokal, seperti Arisan Sampah serta memperkuat tata kelolanya agar mudah direplikasi. Jagling lintas sektoral akan dilaksanakan secara rutin guna memperkuat komitmen dan konsistensi gerakan bersama dalam menjaga dan merawat lingkungan di Bojonegoro.
Selain itu, Mengoptimalkan edukasi, kampanye dan komunikasi lingkungan secara berkelanjutan kepada masyarakat. Hingga mendorong Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi dalam penanganan sampah melalui penyusunan dan pelaksanaan kebijakan-kebijakan strategis.
Upaya tersebut meliputi penyediaan anggaran pengelolaan sampah yang memadai, penyediaan sarana, prasarana, dan infrastruktur pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara berkelanjutan, serta penambahan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) atau mengaktifkan kembali TPA Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (irv/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko