Kemarau Panjang di Bojonegoro, Perlu Tingkatkan Kewaspadaan

M. Irvan Romadhon • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 07:40 WIB
KEBAKARAN DI PEKARANGAN: Petugas memdamkan kobaran api di pekarangan. Perlu meningkatkan kewaspadaan, karena sejak Januri sudah tercatat 84 kejadian. (M. IRVAN RAMADHON/RADAR BOJONEGORO)
KEBAKARAN DI PEKARANGAN: Petugas memdamkan kobaran api di pekarangan. Perlu meningkatkan kewaspadaan, karena sejak Januri sudah tercatat 84 kejadian. (M. IRVAN RAMADHON/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM –Selama 2026 ini terjadi lonjakan tajam kejadian kebakaran dibandingkan 2025 lalu. Peningkatan kejadian kebakaran paling banyak di lahan pekarangan yang menjadi 84 kejadian dibandingkan tahun lalu hanya 62 kejadian. Juga kebakaran lahan hutan 22 kejadian naik dibandingkan tahun lalu hanya satu kejadian.

Padahal tahun ini baru berjalan enam bulan. Sementara data 2025 merupakan kejadian selama satu tahun. Sehingga di sisa tahun ini kejadian kebakaran masih berpotensi terus bertambah.

Aktivis lingkungan mendesak pemerintah memaksimalkan peran relawan kebakaran. Mulai dari melakukan sosialisasi hingga pemantauan rutin.

Baca Juga: Pemkab Bojonegoro Wanti-Wanti Masyarakat Waspada Kemarau Panjang

Ketua Alas Institute Arul Efansyah mengatakan, ada beberapa hal patut menjadi perhatian bersama melihat adanya kenaikan kejadian kebakaran tahun ini. Pertama masyarakat di tengah pemukiman atau perkantoran harus melakukan pemeriksaan kembali instalasi listrik atau kabel agar memastikan keamanan.

‘’Sehingga hal hal yang nantinya bisa berbahaya terjadi korselting bisa terhindar,” ungkapnya.

Kemudian masyarakat tidak boleh membakar sampah di lahan pekarangan. Masyarakat idealnya memilah sampah dari hulu, organik dan anorganik. Sehingga ketika terpilah ada aktivtas atau prilaku positif.

Arul menjelaskan di musim kemarau masyarakat terbiasa menumpuk atau membuang sampah di pekarangan, kemudian dibakar. Tentu ini berpomtensi menjadi kebakaran. Selain itu, masyarakat petani tidak membakar semak-semak di lahan atau di kawasan hutan. Terutama ketika mau membuka lahan.

‘’Pada waktu musim tanam atau pascapanen biasanya membakar sisa-sisa panen. Ini sangat berbahaya,” jelasnya.

Baca Juga: Antisipasi Kebakaran di Musim Kemarau, Damkarmat Bojonegoro Gencarkan Edukasi dan Sosialisasi Kepada masyarakat

Tentu kondisi ini bisa menyebabkan kejadian yang membahayakan. Termasuk tidak membuang putung rokok sembarangan karena di tengah musim kemarau panjang. Juga membuat bediang di kandang bisa memicu kebakaran.

Menurut Arys masyarkat harus berhati-hati betul. Terlebih saat ini berada di tengah musim kemarau panjang dengan cuaca panas. Sehingga kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Baca Juga: 226 Kebakaran di Bojonegoro dalam Tujuh Bulan

Alas Institute mendesak dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan (damkarmat) serta pemerintah kabupaten (pemkab) untuk memaksimalkan relawan kebakaran yang sudah dibentuk hingga di tingkat desa. Tentu berkolaborasi dengan pemerintah kecamatan hingga desa demi aktif melakukan sosialisasi atau kampanye terhadap bahaya kebakaran. Termasuk melakukan pemantauan rutin.

‘’Ini dibutuhkan peran aktif masyarakat untuk melaporkan setiap ada kejadian terutama di kawasan hutan. Jika tidak ditangani segera bisa merembet memicu kebakaran lebih luas,” tutupnya. (irv/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Kemarau Panjang Kebakaran Damkarmat cuaca panas