RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di balik sehelai kain batik, sering kali tersimpan cerita panjang tentang sejarah, perjuangan, dan nilai kehidupan. Hal itulah yang tergambar dalam Batik Obor Sewu, motif batik khas masyarakat Sedulur Sikep Samin di Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro. Batik ini bukan sekadar karya seni, melainkan simbol yang merekam jejak perjuangan Mbah Samin Surosentiko sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya kejujuran, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Nama "Obor Sewu" secara harfiah berarti "seribu obor". Menurut kisah yang hidup di tengah masyarakat Samin, istilah tersebut terinspirasi dari peristiwa ketika Mbah Samin Surosentiko mengumpulkan para pengikutnya pada malam hari. Saat itu, penerangan berasal dari banyak obor yang menyala bersama. Cahaya obor tidak hanya menerangi tempat berkumpul, tetapi juga menjadi lambang semangat perjuangan dan penyebaran ajaran luhur yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Filosofi tersebut kemudian diwujudkan dalam motif batik oleh akademisi seni, Sugeng Wardoyo, melalui riset mendalam mengenai budaya Sedulur Sikep di Dusun Jepang, Desa Margomulyo. Motif Obor Sewu dirancang bukan hanya sebagai identitas visual, tetapi sebagai media untuk mengabadikan nilai-nilai luhur masyarakat Samin ke dalam karya wastra.
Bagi masyarakat Sedulur Sikep, obor merupakan simbol penerang kehidupan. Cahaya obor dimaknai sebagai pedoman moral agar manusia selalu berjalan di jalan yang benar, menjunjung kejujuran, menjaga kerukunan, dan hidup selaras dengan alam. Sementara kata "sewu" atau seribu melambangkan kekuatan kebersamaan. Banyak cahaya kecil yang menyala bersama akan menghasilkan terang yang lebih besar, sebagaimana masyarakat yang saling mendukung demi kehidupan yang harmonis.
Nilai-nilai tersebut sejalan dengan ajaran Mbah Samin Surosentiko yang mengutamakan kejujuran, kesabaran, kesederhanaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap sesama manusia dan alam. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Samin dikenal memegang teguh prinsip tidak mudah iri, tidak mengambil hak orang lain, dan hidup apa adanya. Batik Obor Sewu menjadi representasi visual dari falsafah hidup tersebut.
Keunikan Batik Obor Sewu tidak hanya terletak pada makna filosofisnya, tetapi juga pada perannya sebagai identitas budaya Bojonegoro. Seiring berkembangnya perhatian pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya lokal, motif Obor Sewu kini semakin dikenal luas dan bahkan digunakan sebagai salah satu motif resmi pakaian dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Langkah ini menjadi bentuk nyata penghargaan terhadap warisan budaya Sedulur Sikep sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan budaya Margomulyo kepada masyarakat yang lebih luas.
Di Desa Margomulyo sendiri, Batik Obor Sewu juga berkembang menjadi bagian dari potensi wisata budaya. Para perajin lokal, mulai dari ibu rumah tangga hingga generasi muda, ikut terlibat dalam proses membatik sehingga tradisi ini tetap lestari. Kehadiran batik tersebut bukan hanya membuka peluang ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi para pengunjung yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan Sedulur Sikep.
Pada akhirnya, Batik Obor Sewu mengajarkan bahwa warisan budaya bukan sekadar benda yang diwariskan dari masa lalu. Ia adalah cahaya nilai-nilai kehidupan yang terus menyala, sebagaimana ribuan obor yang dahulu menerangi langkah perjuangan Mbah Samin Surosentiko. Selama filosofi kejujuran, kebersamaan, dan kesederhanaan tetap dijaga, cahaya Obor Sewu akan terus hidup sebagai identitas masyarakat Margomulyo dan kebanggaan Kabupaten Bojonegoro. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko