RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro tengah menyiapkan skema subsidi pakan untuk mendukung Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri). Bantuan tersebut direncanakan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) guna menekan biaya produksi yang selama ini menjadi keluhan peternak.
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro masih menggodok besaran subsidi, jumlah penerima manfaat, serta mekanisme penyalurannya.
Baca Juga: Pemkab Harus Memberi Subsidi Pakan Ayam Gayatri
Sekretaris Disnakkan Bojonegoro Elfia Nuraini mengatakan, rencana pemberian subsidi pakan masih dalam tahap pembahasan. Namun, sumber pendanaannya dipastikan berasal dari program CSR.
Menurut Elfia, terdapat dua skema yang sedang disiapkan. Skema pertama adalah penyediaan 28 unit peralatan pengolah pakan di 28 kecamatan. Peralatan tersebut terdiri atas hammer mill, mixer, dan perlengkapan pendukung lainnya, termasuk penyediaan bahan baku.
Peralatan itu akan dijadikan proyek percontohan agar kelompok peternak mampu memproduksi pakan secara mandiri (self mixing). Dengan cara tersebut, biaya pakan diperkirakan dapat ditekan hingga sekitar Rp500–Rp750 per kilogram.
"Dengan potensi jagung saat panen melimpah maupun jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), biaya produksi pakan bisa ditekan," jelasnya.
Skema kedua ialah pemberian subsidi pakan pabrikan. Namun, pelaksanaannya masih memerlukan pembahasan lebih lanjut karena harus diawali dengan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) bersama pihak ketiga.
Di sisi lain, Elfia juga menanggapi turunnya harga telur di pasaran. Menurutnya, penurunan harga terjadi secara nasional akibat kelebihan produksi.
"Sebenarnya produksi telur dari Program Gayatri sendiri baru mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan telur di Bojonegoro," tegasnya.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri menilai Program Gayatri maupun Program Domba Kesejahteraan secara umum telah berjalan dengan baik. Meski terdapat sejumlah kasus penerima manfaat yang menjual ayam atau domba bantuan, jumlahnya dinilai relatif kecil dibandingkan total penerima program.
"Artinya, dari ribuan keluarga penerima manfaat Program Gayatri maupun domba, kasus yang menjual bantuan sangat sedikit dibandingkan yang masih memeliharanya," ujarnya.
Meski demikian, Lasuri menilai Pemkab Bojonegoro tetap perlu mencari solusi terhadap tingginya harga pakan pabrikan yang menjadi beban utama peternak.
"Tinggal sekarang bagaimana intervensi pemkab terkait pengadaan pakan ayam," katanya.
Politikus PAN tersebut mengusulkan dua langkah yang dapat ditempuh pemerintah, yakni memberikan subsidi pakan atau menyediakan mesin pembuat pakan bagi kelompok peternak. Menurutnya, kedua skema itu akan membantu menekan biaya produksi sehingga keuntungan peternak dapat meningkat. (irv/zim)
Editor : Hakam Alghivari