RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kekeringan masih menjadi bencana langganan setiap musim kemarau. Bahkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menyebut kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibanding tahun lalu.
Masyarakat diimbau waspada. Sementara itu, dropping air menjadi salah satu solusi jangka pendek bagi wilayah terdampak. Pemkab Bojonegoro menganggarkan sekitar Rp 529 juta.
Kepala BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi menyampaikan, terdapat sejumlah pos anggaran dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Yakni, di induk dianggarkan sebesar Rp 450 juta. Sedangkan, pada perubahan atau P-APBD dijatah sekitar Rp 79 juta. Total sekitar Rp 529 juta.
Baca Juga: 93 Desa di 24 Kecamatan Wilayah Bojonegoro Terancam Kekeringan Ekstrem pada Musim Kemarau
"Ditambah dari BPBD provinsi dan kabupaten, jumlahnya belum tahu. Menunggu situasi dan kondisi," katanya.
Dia menjelaskan, perkiraan musim kemarau tahun ini lebih panjang dan suhu lebih panas dibanding tahun kemarin. Sedangkan, untuk anggaran BPBD provinsi maupun kabupaten sesuai kebutuhan.
Terpisah, Kepala Desa (Kades) Meduri, Kecamatan Margomulyo Hariyono mengaku, wilayahnya menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau. Dropping air tak jarang diajukan. Namun, sementara ini masih terpenuhi.
"Sementara masih terpenuhi atau terkondisikan. Kapan-kapan kalau masyarakat sudah membutuhkan kami informasikan," imbuh kades dengan desa tanpa tanah kas desa (TKD) itu. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko