RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tingginya angka pengangguran yang didominasi lulusan SMA dan SMK menjadi tantangan bagi sekolah kejuruan untuk meningkatkan keterserapan alumninya di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari memperkuat kerja sama dengan perusahaan hingga mengoptimalkan peran Bursa Kerja Khusus (BKK).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bojonegoro, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2025 mencapai 3,90 persen atau sekitar 32.937 orang. Dari jumlah tersebut, lulusan SMK menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 32,66 persen, disusul lulusan SMA sebesar 22,66 persen.
Kepala SMKN 1 Bojonegoro, Roedie Agus Setiyono, mengatakan pihaknya terus menargetkan peningkatan jumlah lulusan yang terserap di dunia kerja setiap tahun.
Baca Juga: Perusahaan Luar Kota Dominasi Kerja Sama dengan BKK SMK Bojonegoro
Pada tahun ini, tingkat keterserapan lulusan di sekolahnya meningkat sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Dari lulusan tahun ini, sebanyak 288 orang sudah diterima bekerja. Jumlah itu mencapai lebih dari 50 persen dari total lulusan," ujarnya.
Menurut Roedie, sebagian besar lulusan yang telah bekerja diterima di berbagai perusahaan dalam negeri.
Capaian tersebut tidak lepas dari kerja sama yang dibangun sekolah dengan berbagai perusahaan melalui Bursa Kerja Khusus (BKK), serta pelaksanaan praktik kerja lapangan (PKL) yang menjadi jembatan antara siswa dan dunia industri.
"Kerja sama melalui BKK dan program PKL sangat membantu lulusan lebih cepat masuk ke dunia kerja," jelasnya.
Baca Juga: Jadi Penjilat? Pahami Cara Efektif Membangun Hubungan yang Baik dengan Atasan di Dunia Kerja
Ia menambahkan, SMKN 1 Bojonegoro kembali menargetkan peningkatan keterserapan lulusan pada tahun depan. Sekolah membidik kenaikan sekitar 10 persen dibandingkan capaian tahun ini. (irv/zim)
Editor : Bhagas Dani Purwoko