Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

ASN dan SPPG Bojonegoro Diwajibkan Membeli Telur dari Program Gayatri, KPM Keluhkan Harga Pakan dan Pasar

Yana Dwi Kurniya Wati • Jumat, 8 Mei 2026 | 07:00 WIB
STOK MELIMPAH: Sekitar lima tahun lalu stok telur di Bojonegoro disuplai dari luar kota, setelah program Gayatri berjalan, stok melimpah, harga di pasaran anjlok. Pemkab mengeluarkan SE tentang ASN dan SPPG wajib membeli produk gayatri. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)
STOK MELIMPAH: Sekitar lima tahun lalu stok telur di Bojonegoro disuplai dari luar kota, setelah program Gayatri berjalan, stok melimpah, harga di pasaran anjlok. Pemkab mengeluarkan SE tentang ASN dan SPPG wajib membeli produk gayatri. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Demi meningkatkan kesejahteraan keluarga penerima manfaat (KPM) ) gerakan beternak ayam petelur mandiri (gayatri), pemkab mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor: 524/605/412.222/2026 tentang Pembelian Telur Ayam dari KPM Program Gayatri dan Peternak Ayam Petelur Lokal.

Dalam surat tersebut, ASN diimbau membeli telur dari program gayatri atau peternak lokal minimal 2 kg/bulan. Kemudian, menginstruksikan camat memerintahkan kepala desa (kades) untuk mengimbau masyarakat melakukan hal serupa.

Serta, menginstruksikan kepala SPPG membeli telur untuk kebutuhan MBG dari KPM gayatri dan peternak lokal sesuai harga pasar atau harga acuan pembelian (HAP).

Baca Juga: Temuan DPRD Bojonegoro di Lapangan: KPM Gayatri Jual Kandang dan Ayam, Perlu Ditingkatkan Pengawasan

Langkah itu diambil setelah KPM gayatri mengeluh. Bahkan, temuan DPRD sebagian KPM menjual ayam dan kandangnya. Program yang bertujuan menekan kemiskinan, bagi KPM cukup bikin pusing. Karena, pakan ternak kian mahal, minim wadah penjualan.

"Bojonegoro beberapa tahun lalu kekurangan telur, tapi beberapa tahun lalu. Jadi suplai dari kabupaten/kota lain," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro Edi Susanto.

Edi menegaskan, telah keluar SE terkait pembelian telur gayatri dan peternak lokal. Agar serapan produk gayatri maksimal.

Sesuai tujuan utama, pengentasan kemiskinan, karena tujuan gayatri membuat ketersediaan telur tercukupi.

"Di tahun ini konsumsi telur di Bojonegoro lebih dari cukup. Dengan produksi dari gayatri ini pemkab memfasilitasi supaya telur terserap maksimal," lanjut dia.

Sehingga, imbuh dia, pemkab memberi arahan melalui SE salah satunya bagi ASN yang biasa mengonsumsi telur. Saat disinggung perihal keluhan harga pakan, mantan sekwan DPRD ini mengarahkan ke dinas peternakan dan perikanan (disnakkan). "Kalau detail perihal itu (harga pakan, red) ke peternakan ya," ujar dia.

Dosen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Retno Muslinawati mengatakan, berangkat dari diskusi berbagai sumber mulai masyarakat pengelola hingga pengamat, ada pendekatan yang bisa dilakukan.

Yakni,  pendekatan OBE. Di antaranya audit outcome, bukan output. Artinya, jangan tanya berapa ekor ayam disalurkan tapi tanya berapa KPM yang omzetnya naik setelah enam bulan, berapa hang masih pelihara ayam sampai hari ini, dan berapa kilogram telur atau daging terjual per bulan per KPM. "Kalau data ini tidak ada, berarti selama ini tidak monitoring," tegas dia.

Kemudian, analisis lima titik gagal umum program ternak dengan mengecek KPM yang mau jual masalahnya di mana. Apakah dari segi pakan, misal jagung atau katul naik, kalau rugi bisa dengan solusi KPM diajari tanam azolla atau maggot.

Selanjutnya di sisi kesehatan, jika ayam mati kena tetelo, adakan vaksinasi massal satu desa satu mantri hewan. Jika masalah di pasar dengan telur menumpuk tidak ada yang beli, bisa dengan kontrak bersama badan usaha milik desa (bumdes) atau catering sekolah.

Baca Juga: Muncul Kasus KPM Jual Aset, Akademisi Bojonegoro Desak Evaluasi Program Gayatri

"Di sisi manajemen, kasih makan enggak rutin maka pendampingan intensif selama tiga bulan pertama. Dan, modal kerja jika tidak ada uang beli pakan bulan kedua maka skema kemitraan bukan hibah lepas," jelas dia.

Retno menambahkan, memilah KPM juga penting. KPM yang niat tapi gagal teknis bisa diberi diselamatkan dengan memberi pelatihan ulang dan subsidi pakan dua bulan. Sedangkan, KPM memang tidak cocok ternak jangan dipaksa. Alihkan ke program lain. "Program bagus itu tahu kapan harus berhenti bantu," ujarnya.

Cara lainnya, imbuh Retno, mengubah skema hibah jadi kemitraan. Dia menyarankan model pemkab atau CSR memberi ayam dan pakan sebulan, KPM wajib setor 30 persen hasil telur ke koperasi. "Koperasi ke pasar. KPM fokus produksi, semua untung," terang dia.

Salah seorang KPM mengaku, pemeliharaan harus esktra karena ayam mudah stres. Terlebih di musim yang tidak jelas. Pakan mahal, harga telur anjlok.

"Jika harga di Rp 25 ribu per kg masih bisa untung. Semoga harga telur stabil dan harga pakan tidak naik, karena sekarang tembus Rp 360 ribu per 50 kg. Sebelumnya Rp 355 ribu per 50 kg," ujar dia.

Menurutnya, pakan menjadi salah satu tantangan besar. Di sela mahalnya harga, pakan bisa habis tidak sampai sepuluh hari. Apalagi, jika harga telur saat ini Rp 22 ribu per kg hanya untung sangat sedikit per bulan.

"Program ini baik, tapi kesalahannya menurut saya terlalu banyak yang mendapatkan sedangkan tidak ada pengepul, jadi perputaran telur di Bojonegoro lambat. Kebanyakan panen. Satu desa ada 20 KPM," beber dia. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Ayam petelur #as #gayatri #telur #SPPG