Alun-alun Bojonegoro bakal dipugar. Direhab total. Pemkab Bojonegoro mengalokasikan dana sebesar Rp28 miliar untuk pembangunannya.
Rencana pembangunan alun-alun itu sudah sejak tahun lalu disampaikan bupati. Kabarnya, arsitek perencana desainnya dari Tiongkok. Namun, kabar itu belum terverifikasi.
Alun-alun adalah pusat kota. Selain pusat kegiatan warga, juga sebagai pusat ekonomi. Lihatlah alun-alun saat malam. Puluhan pedagang mencari nafkah di situ. Mulai pedagang gorengan, bakso, hingga kopi ada di situ.
Kita semua tahu, alun-alun adalah tempat nongkrong yang enak. Nyaman dan murah. Datanglah ke alun-alun saat malam Minggu, puluhan hingga ratusan anak muda nongkrong sambil ngopi di situ.
Perputaran ekonominya juga cukup besar. Katakanlah pengunjung alun-alun setiap harinya 200 orang. Satu orang membeli jajanan Rp100.000,00. Maka, dalam sehari putaran ekonominya mencapai Rp20.000.000,00. Jika ada 400 orang yang membeli makanan di situ, maka bisa mencapai Rp40.000.000,00 sehari. Nilai yang cukup besar.
Namun, pedagang kaki lima di alun-alun yang tidak tertata memang membuat pemandangan kurang bagus. Bahkan, tidak jarang membuat pengendara yang melintas harus ekstra hati-hati. Banyak gerobak pedagang dan pembeli yang berjejer di pinggir jalan.
Pemerintah sebenarnya memberikan batasan-batasan pada para pedagang itu. Di kawasan dan jam tertentu mereka tidak boleh berjualan. Namun, namanya orang mencari rezeki akan melakukan berbagai cara.
Datanglah ke alun-alun saat malam, sekitar pukul 19.00 WIB. Baru duduk beberapa saat, para pedagang akan segera bergegas memindahkan gerobaknya ke seberang jalan. Sebab, pada jam-jam itu ada patroli Satpol PP. Setelah petugas Satpol PP pindah lokasi, para pedagang kembali ke lokasi jualan di alun-alun.
Sebenarnya, baik Satpol PP maupun pedagang sudah sama-sama saling mengerti. Petugas Satpol PP hanya menjalankan tugasnya untuk mensterilkan kawasan alun-alun dari pedagang. Adapun pedagang ingin mencari rezeki di alun-alun. Mereka tidak mau bersitegang seperti yang terjadi di kota besar. Maka, saat waktunya petugas itu patroli, mereka menyingkir.
Pembangunan alun-alun dengan anggaran Rp28 miliar tentunya akan mengubah wajah ikon daerah itu. Saya mengakui, hanya di Bojonegoro alun-alun yang masih memiliki banyak pohon. Itu membuat alun-alun bisa dijadikan tempat bermain siang hingga malam.
Alun-alun di daerah lain minim pohon. Saat siang hari, jangan tanya bagaimana panasnya.
Maka, pemerintah harus mempertahankan pohon-pohon agar tidak ditebang. Semodern apa pun alun-alun, saat pohon itu hilang, maka alun-alun akan sangat panas. Hanya bisa dikunjungi saat malam hari.
Tentu kita tidak mau itu terjadi.
Kekurangan alun-alun Bojonegoro memang banyak. Bangunannya sudah lawas. Selama ini hanya dilakukan rehab kecil-kecilan. Selain itu, saat hujan, becek dan banyak air menggenang. Sebab, masih berupa tanah.
Burung-burung merpati di situ juga menjadi hiburan tersendiri. Anak-anak sangat suka bermain dengan burung-burung itu. Memberi makan jagung yang dibeli dari pedagang di sekitar situ.
Mari kita tunggu wajah baru Alun-Alun Bojonegoro. (zim)
Editor : M. Nurkhozim