RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mematangkan rencana pembangunan jalur lintang selatan (JLS). Tujuannya untuk mengurai kemacetan.
Tahun ini fokus detail engineering design (DED), atau detail gambar kerja hingga penyusunan analisis dampak lingkungan (amdal). Setidaknya ada empat kecamatan diprediksi bakal terdampak. Meliputi Kecamatan Balen, Kapas, Dander, dan Kalitidu
‘’Dalam tahap studi kelayakan bekerja sama dengan Tim Pusat Kajian Lembaga Kerja Sama Fakultas Teknik (LKFT) Universitas Gadjah Mada (UGM),” jelas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Penataan Ruang (PUBMPR) Bojonegoro Chusaifi Ivan Rachmanto, Rabu (18/2).
Ivan melanjutkan, sejumlah tahapan dianggarkan di 2026. Meliputi DED, pengadaan tanah, amdal, analisis dampak lalu lintas (amdalalin), hingga rencana integrasi dengan flyover atau jembatan layang.
Namun, belum bisa memastikan lokasi JLS. ‘’Yang pasti di selatan rel kereta api (KA). Nanti ini terintegrasi dengan flyover,” bebernya saat wawancara cegat di depan Ruang Komisi D DPRD Bojonegoro.
Dia menambahkan, meski belum bisa menyebut pasti lokasi JLS, setidaknya ada empat kecamatan yang berpotensi terdampak pembangunan. Antara lain Kecamatan Balen, Kapas, Dander, dan Kalitidu. ‘’Proses pembangunan paling cepat 2028,” imbuh dia.
Terpisah, Bupati Setyo Wahono dalam pertemuan dengan Tim Pusat LKFT UGM menyampaikan, pembangunan JLS mengedepankan prinsip pemecahan masalah sekaligus efisiensi anggaran tanpa mengurangi nilai fungsi dan ekonomi masyarakat ke depan.
‘’Kita dorong konsep efisien dan minimalis namun tetap visioner. Salah satunya dengan mempertimbangkan struktur atau layout jalur lebih detail serta untuk efisiensi lahan dan struktur,” tegasnya di Ruang Angling Dharma, Rabu lalu. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana