Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Akademisi Pandang Gayatri Belum Turunkan Kemiskinan Struktural, Tahun Ini Pemkab Bojonegoro Siapkan Paket Untuk 4.400 KPM

Yana Dwi Kurniya Wati • Jumat, 20 Februari 2026 | 07:00 WIB
PRODUKTIF: Salah satu KPM usia produktif sedang membersihkan kandang ayam gayatri, salah satu program prioritas Bupati Wahono dan Nurul Azizah.
PRODUKTIF: Salah satu KPM usia produktif sedang membersihkan kandang ayam gayatri, salah satu program prioritas Bupati Wahono dan Nurul Azizah.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tepat hari ini (20/2), satu tahun Setyo Wahono mendapat amanat sebagai bupati Bojonegoro, dan Nurul Azizah sebagai wakilnya.

Berbagai program telah direalisasikan untuk menekan kemiskinan. Mulai dari domba kesejahteraan, kolega, hingga gerakan beternak ayam petelur mandiri (gayatri).

Namun, program tersebut dinilai belum mampu menurunkan kemiskinan struktural. Meski secara umum angka kemiskinan 11,69 pada 2024 turun menjadi 11,49 di 2025 dan ditargetkan turun 10,55 pada tahun ini.

Awaludin Ridwan akademisi ekonomi pertanian mengatakan, perkembangan sampai saat ini gayatri mampu memberi tambahan protein keluarga, tambahan pendapatan harian. Dampak lain yang belum optimal adalah belum bisa menurunkan kemiskinan struktural.

Selain itu, belum banyak KPM yang menambah populasi ayam apabila program ini di klaim sangat menguntungkan KPM. Di beberapa wilayah, banyak terjadi ayam mati serta penurunan produksi telur terjadi karena teknik pemberian pakan yang belum optimal.

‘’Misalnya pencampuran jagung dengan takaran tak tepat, sehingga memerlukan pendampingan intensif lebih lanjut,” ungkapnya.

Akademisi yang sedang menempuh pendidikan doktor di Universitas Brawijaya tersebut menilai KPM sekarang fokus pada budidaya yang baik dan benar. Sehingga gayatri menjadi program untuk bisa mengentaskan kemiskinan. Agar budidaya ayam petelur harus bisa berkelanjutan, diperlukan pendampingan yang berfokus pada wirausahan.

‘’Sehingga usaha ayam petelur bisa terus berlanjut dan peternak akan sendirinya menambah populasi yang akhirnya juga menambah pendapatan,” ujarnya.

Menurut Ridwan program gayatri dirancang memberikan aset produktif, mulai ayam petelur, kandang, pakan awal kepada keluarga pra-sejahtera. Tujuannya adalah mendorong penerima manfaat memiliki sumber pendapatan harian dari penjualan telur dengan fokus utama adalah mengurangi kemiskinan melalui usaha riil rumah tangga.

‘’Selain itu program gayatri juga untuk penguatan ketahanan pangan dan gizi keluarga penerima manfaat. menciptakan wirausaha ternak desa,” ungkapnya.

Ketua Giri Foundation Rian Adi Kurniawan mengatakan, satu tahun pertama ini momentum evaluasi pemkab untuk melihat masa lalu dan merumuskan masa depan.

Berdasarkan pengamatannya, belum ada gebrakan dari pemkab di tahun pertama ini. Diharapkan di tahun berikutnya lebih baik lagi. ‘’Semoga kedepan lebih baik,’’ katanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Catur Rahayu, menyampaikan bahwa penguatan sektor peternakan dan perikanan difokuskan pada program berbasis keluarga produktif agar mampu menjadi sumber penghasilan berkelanjutan.

“Selama satu tahun, berbagai program peternakan dan perikanan terus kami percepat dan perluas. Fokusnya bukan hanya pada penyaluran bantuan, tetapi juga pendampingan agar KPM benar-benar bisa mandiri dan usahanya berkelanjutan,” jelasnya.

Salah satu program unggulan adalah Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) yang terbukti memberikan dampak nyata bagi peningkatan pendapatan keluarga. Sepanjang tahun 2025, program Gayatri telah menjangkau ribuan penerima dari berbagai sumber pendanaan. Dari APBD Induk 2025 sebanyak 400 KPM, Perubahan APBD 2025 sebanyak 5.000 KPM, dukungan CSR sebanyak 575 KPM, serta tambahan dari APBDes sebanyak 2.636 KPM.

Memasuki tahun 2026, program Gayatri kembali diperkuat dengan alokasi untuk 4.400 KPM. Saat ini, ayam petelur dari Gayatri APBD Induk 2025 telah memasuki masa puncak produksi dengan capaian sekitar 82 persen, sementara paket dari Perubahan APBD menunjukkan tren produksi yang terus meningkat.

“Program Gayatri menjadi salah satu motor penggerak ekonomi rumah tangga. Produksi telur sudah berjalan baik dan kami terus dorong KPM menerapkan manajemen kandang dan pakan sesuai bimbingan teknis,” tambahnya. (irv/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kemiskinan #Nurul Azizah #Ayam petelur #bupati bojonegoro #kpm #akademisi #peternakan #Ayam #gayatri #telur #kemiskinan struktural #Program Gayatri #bojonegoro #ayam mati #Setyo Wahono