Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Salak Wedi Terancam Punah, Pemdes Wedi Berkomitmen Melestarikan dengan Kirab 25 Gunungan Salak

Yana Dwi Kurniya Wati • Minggu, 14 Desember 2025 | 14:00 WIB
KASIH JALAN: Gunungan salak wedi keluar dari balai desa setempat untuk dikirab dari start hingga finis, kemudian digrebek warga.
KASIH JALAN: Gunungan salak wedi keluar dari balai desa setempat untuk dikirab dari start hingga finis, kemudian digrebek warga.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Desa Wedi, Kecamatan Kapas pagi itu tak seperti biasanya. Sejak sekitar pukul 07.30, area pinggir jalan kantor balai desa sudah dipadati warga. Mereka tak sabar menonton kirab 25 gunungan salak yang sudah terjajar rapi.

Festival Salak Wedi itu mengundang perhatian ribuan masyarakat. Puluhan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) turut memeriahkan. Dari mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga pedagang kali lima. Ceruk ekonomi mulai bergeliat.

Festival sebagai rangkaian peringatan haul tokoh penanam salak pertama di desa wedi, Almarhum KH. Basyir Almujtaba ke-102 itu, berangkat dari keprihatinan ancaman punahnya salak wedi.

Karena banyak pemuda yang enggan melestarikan salak wedi.

‘’Salak Wedi memiliki sejarah panjang, menjadi penopang ekonomi warga,’’ kata Kepala Desa Wedi Kecamatan Kapas Heru Purnomo.

Menurut dia, data terbaru luas lahan kebun salak sekitar 60 hektare yang tersebar di 21 RT, rata-rata 3 hektare per RT. Ada beberapa tantangan untuk melestarikan salak wedi, di antaranya, semangat warga merawat kebun salak mulai luntur.

Momentum festival salak  tahun ini sebagai penyemangat untuk kebangkitan warga merawat salak wedi.

‘’Kami, atas nama pemerintah desa wedi bersama warga, berkomitmen melestarikan salak wedi,’’ tegasnya.

Ada beberapa ancaman punahnya salak wedi, mulai pekarangan warga yang sebelumnya ditanami salak, menjadi permukiman, karena lahannya didirikan rumah. Sehingga berdampak berkurangnya lahan kebun salak.

Kemudian kebutuhan air di musim kemarau, karena air menjadi kebutuhan dasar lestarinya salak, termasuk saluran air yang kurang lancar. ‘’ Kami minta bantuan dan support dari semua pihak untuk melestarikan salak wedi,’’ ungkapnya.

Panitia Festival Salak Wedi Muhammad Mudhir menambahkan, festival kali ini merupakan pertama sejak sempat berhenti pascapandemi. Tujuannya, melestarikan salak wedi atau buah khas lokal yang dapat disuguhkan saat acara atau sekadar ditaruh meja untuk tamu.

"Juga ada filosofinya, mengapa dimulai dari balai desa dan finish di musala Gang Resowijoyo. Ini berkaitan dengan sinergitas, termasuk dengan para ulama atau tokoh agama. Kami berharap adanya festival ini bisa memajukan penghasilan kebun salak," ujar Mudhir, sapaannya.

Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah merspons positif tentang komitmen Pemdes Wedi melestarikan salak wedi. Meminta Festival salak ini menjadi agenda event tahunan. ‘’Bagus ini (festival salak wedi), harus dibuat event tahunan,’’ katanya saat sambutan pembukaan Festival Salak Wedi.

Menanggapi beberapa kendala yang dihadapi tentang melestarikan salak, Wabup siap membantu mencarikan solusi, salah satunya ancaman kekeringan kebun salak saat musim kemarau.

‘’Nanti dinas PU SDA (Pekerjaan Umum Sumberdaya Air) akan saya ajak bicara untuk mencarikan solusi, demi kelestarian salak wedi,’’ tegasny saat sambutan kemudian memberangkatkan 25 gunungan salak.

Wakil Ketua IV DPRD Jatim Sri Wahyuni berharap, melalui festival itu salak wedi tidak berhenti dan semakin berkembang, khususnya dalam produksi atau hasil panen.

"Dan, berinovasi dengan pemasarannya lebih ditingkatkan lagi sehingga diminati baik dari dalam kabupaten maupun tingkat nasional," tuturnya sauai potong pita simbol pembukaan lokasi grebek salak gratis.

Perempuan domisili Kecamatan Kapas itu melanjutkan, salak wedi memiliki ciri khas tersendiri. Berbeda dengan jenis salak lainnya. Manis, legit, dan ada sepet atau masam. "Kalau salak lainnya kan hanya manis saja," ujar dia. (yna/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Wedi #balai desa #kapas #Nurul Azizah #kirab #gunungan #umkm #salak #Ekonomi #kelestarian #bojonegoro #salak wedi #festival salak #Pemukiman #kepala desa