RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kemeriahan tak terbendung menyelimuti halaman Pondok Pesantren Modern Al-Fatimah, Bojonegoro, Minggu (30/11) malam. Ribuan jemaah dari berbagai penjuru daerah memadati lokasi, antusias menyaksikan pengajian akbar yang menghadirkan ulama kondang, Gus Iqdam.
Pengajian ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (Harlah) ke-19 Ponpes Modern Al-Fatimah. Saking populernya, banyak jemaah rela datang lebih awal demi bertemu dengan Gus Iqdam, tokoh yang dikenal dengan istilah populernya, "Dekengan Pusat".
Dihadiri Pejabat dan Tokoh Penting
Acara bersejarah ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pejabat penting Bojonegoro. Mereka yang hadir antara lain: Wakil Bupati Nurul Azizah, Ketua DPRD Abdullah Umar, Kapolres Bojonegoro, Dandim 0813, Ketua DPD Golkar Ahmad Supriyanto, Ketua PD Muhammadiyah Suwito, serta sejumlah tokoh dan alim ulama lainnya.
Pengasuh Ponpes Modern Al-Fatimah, Dr. KH. Tamam Syaifuddin, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran para undangan dan seluruh masyarakat. Di usia yang ke-19 tahun ini, Kiai Tamam berharap momentum Harlah dapat menjadi penyemangat untuk terus berprestasi.
"Al-Fatimah berdiri tahun 2006. Saat ini sudah berusia 19 tahun," jelas Kiai Tamam.
Ia juga mengungkapkan bahwa nama Al-Fatimah diambil dari nama ibunda Kiai Tamam, yang memiliki cita-cita mulia untuk mendirikan pondok pesantren. "Alhamdulillah, saat ini sudah ada banyak pondok pesantren milik keluarga, baik di Bojonegoro maupun di Tuban," tuturnya.
Pesan Gus Iqdam: Pentingnya Adab di Pesantren
Dalam ceramahnya yang penuh keakraban, Gus Iqdam mengajak masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya agar tidak ragu memasukkan putra-putrinya ke pesantren. Menurutnya, di lembaga pendidikan berbasis agama, anak tidak hanya diajari ilmu, tetapi yang lebih utama adalah adab atau etika.
"Banyak pergaulan di luar sana yang tidak jelas. Namun, di pesantren, anak-anak akan digembleng menjadi lebih beradab," terangnya.
Gus Iqdam sempat berbagi kisah pribadinya saat awal mondok, yang sempat merasa tidak betah. Baru pada tahun ketiga ia mulai "kerasan" dan menjadi rajin mengaji. "Padahal, dekat lho. Dari Blitar ke Kediri. Itu saya ingin pulang saja," kenangnya, disambut tawa jemaah.
Suasana pengajian berlangsung gayeng (meriah dan akrab). Kemeriahan makin terasa dengan iringan lantunan selawat dari tim Hadrah Sabilu Taubah. Gus Iqdam juga berinteraksi langsung dengan para santri dan ribuan jemaah yang hadir, menjadikan malam itu penuh inspirasi dan kehangatan. (zim)
Editor : M. Nurkhozim