RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kasus peledakan SMAN 72 Jakarta pada Jumat siang (7/11) menjadi sorotan nasional. Imbasnya, pemerintah berencana memblokir salah satu game online beraliran shooter dan battle royale bernama PUBG. Lantaran, paparan kekerasan di dalam game diduga menyebabkan pelaku melakukan peledakan.
Rencana pemblokiran PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) kian menguat. Pengurus Cabang Olahraga (Cabor) E-sport Indonesia (ESI) Bojonegoro meminta adanya pengkajian ulang. Terlebih menilai game bukan faktor utama kejadian meledaknya bom rakitan di sekolah tersebut.
Ketua ESI Bojonegoro Dika Pratama mengatakan, harus dikaji ulang untuk pembatasan game PUBG buntut dari ledakan di SMAN 72 Jakarta. Pembatasan game ini bisa ditujukan kepada kelompok umur yang mana terlebih dahulu.
Terlebih, jika pembatasan dilakukan untuk semuanya mungkin bisa merugikan atlet PUBG. Terlebih banyak pemain PUBG yang berstatus atlet sudah berprestasi. Selain itu, para streamer banyak mencari rezeki dari game tersebut.
''Mungkin harusnya yang ada pembatasan anak yang hanya bermain game yang berlebihan tidak menunjukan arahnya akan berprestasi," ungkapnya. Dika menjelaskan, peran para orang tua juga harus mengerti tentang anak.
Terutama bagaimana mengelola waktu antara bermain dan belajar. Dika mempertanyakan kenapa harus PUBG? Padahal banyak game yang bergenre sama. Juga ada faktor lain tidak hanya dari game, seperti film, drama, serial TV ataupun media lainnya yang mudah diakses di era sekarang.
Terkait perkembangan game PUBG di Bojonegoro, menurut Dika, PUBG pada saat ini sedikit minim minat untuk generasi baru. Terlihat pada saat ada turnamen masih banyak orang-orang lama yang mengikuti. Sedangkan, event yang ada di dalam naungan KONI itu kelompok umur.
''Harus ekstra untuk mencari generasi atlit baru untuk persiapan event selanjutnya,'' jelasnya.
Terpisah, Indonesia E-Sport Association (IESPA) Bojonegoro juga menilai tidak bisa hanya menyalahkan game PUBG. Harus melihat berbagai faktor pendukung.
"Terkait wacana pembatasan game PUBG yang dikaitkan dengan kasus peledakan tempo lalu, sebenarnya tidak bisa menyalahkan game tersebut. Kita harus menyikapinya secara bijak," ujar Ketua IESPA Bojonegoro Iwan Syarozi, Minggu (16/11) siang.
Pria kerap disapa Iwan itu melanjutkan, kasus peledakan sekolah itu harus dilihat secara menyeluruh. Melihat faktor-faktor lain juga, dari sisi pribadi hingga kehidupan oknum peledakan. Menurutnya, jika mencermati wacana pembatasan game bergenre battle royale itu kurang bijak.
Sebab, game tersebut juga melahirkan banyak atlet dari tingkat regional sampai internasional. Khususnya, PUBG yang ada di Bojonegoro yang masih ada komunitasnya. "Yang bisa diarahkan secara baik. Dan, Alhamdulillah ekosistem e-sport Bojonegoro tidak ada hal atau dampak negatif terkait game (PUBG) itu," klaimnya.
Dari komunitas-komunitas game lain, lanjut dia, juga terlihat baik dan terus berkembang. Sementara, untuk pembatasan tersebut pihaknya mengaku menunggu informasi resmi dari pemerintah dan pemangku jabatan e-sport di atas.
"Kalau kami di level grassroot hanya bisa mendukung apapun yang dikeluarkan pemerintah. Untuk penolakan tidak ada, hanya akan membatasi sesuai aturan berlaku (jika sudah diputuskan)," imbuhnya. (irv/yna/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana