RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pengendara motor yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) Pertalite di Bojonegoro mengeluhkan kendaraan brebet, mesin sulit dihidupkan, hingga macet alias mogok.
Setelah dicek dengan dibawa ke bengkel, ternyata pembakaran di mesin tak maksimal. Setelah tangki BBM dikuras, ternyata ditemukan Pertalite campur dengan air.
Winarto pengadu di posko pengaduan SPBU Ngrowo mengatakan, mengisi pertalite pada Jumat (24/10) lalu di SPBU Kalirejo.
Kemudian Minggu (26/10) motor mulai macet. Ketika digas tidak bisa melaju kencang. ''Mulai bereaksi Minggu (26/10)," ungkapnya ketika ditemui usai membuat pengaduan.
Winarto menjelaskan, motor kemudian dibawa ke bengkel. Hasilnya pembakaran tidak sempurna hingga busi harus diganti. Termasuk BBM dikuras dari tangki. ''BBM dan busi yang rusak dibawa," ungkapnya.
Hal senada dialami pengendara motor Dini Rizki, mengeluhkan kendaraan brebet. Bahkan, keluar asap. Tak menyangka ada indikasi karena BBM yang tak sesuai.
"Sebenarnya motorku sudah agak lama brebet," kata Dini Rizki, warga Kecamatan Kota kemarin (27/10).
Dini melanjutkan, awalnya tidak tahu mengapa motor jadi brebet hingga dibiarkan. Namun, menurutnya, baru diketahui akhir-akhir ini salah satu penyebabnya terindikasi BBM yang tak sesuai.
Dia mengaku, kerap mengisi BBM di area Kelurahan Ngrowo dan Jalan Veteran, Kecamatan Kota. "Agak lupa, sepertinya awal bulan atau akhir-akhir ini kerasa banget itu motornya brebet," ujarnya.
Fenomena motor mogok masal melanda wilayah Bojonegoro sejak Sabtu (25/10). Puluhan pengendara mengeluhkan hal motor tiba-tiba brebet, tarikan hilang, bahkan tak bisa di-starter, setelah mengisi BBM jenis Pertalite.
“Rata-rata motor yang datang ke sini (bengkel) keluhannya sama semua," ungkap Oki, pemilik bengkel di Kecamatan Bojonegoro Kota.
Menurutnya, keluhan suara brebet dan mesin susah hidup. Setelah dicek, businya hitam, indikasi pembakaran terganggu.
"Baru buka tadi, sudah ada sekitar 20 motor," ungkapnya. Menurutnya, dalam sehari bengkelnya bisa menerima puluhan motor dengan gejala serupa. "Rerata harus menguras dulu BBM-nya, dan dilihat warnanya puyeh (lebih putih)," tegasnya.
Beberapa pengendara bahkan menunjukkan botol berisi bahan bakar yang tampak memiliki lapisan terpisah antara cairan dan air, menimbulkan dugaan bahwa bahan bakar tercampur zat lain.
Candra, pengendara motor yang juga sempat mengalami mogok menyampaikan, terpaksa membeli Pertamax dengan harga lebih mahal. "Daripada mogok, ya terpaksa beli Pertamax dulu," keluhnya.
Pengawas SPBU Ngrowo Mujib mengatakan, posko pengaduan baru dibuka Senin (27/10) hingga Rabu (29/10). Pada hari pertama posko dibuka baru satu pengaduan.
Isi pengaduan berupa keluhan dan keterangan dari bengkel. Terlebih keterangan dari bengkel menjadi bukti bahwa kerusakan motor akibat kualitas BBM jelek.
''Keterangan dari bengkel untuk menunjukkan karena BBM," jelasnya. Menurut Mujib, sejak kiriman Minggu (26/10) BBM sudah normal seperti biasanya. Berbeda dengan pengiriman sebelumnya yang baunya lebih menyengat.
Mujib mengaku, selalu melakukan pemeriksaan berkala pada BBM. Terlebih di musim penghujan pengecekan lebih sering dilakukan.
''Pengecekan dilakukan berupa uji densitas. Dari uji tersebut spesifik masih masuk dalam standar," terangnya.
Pengawas SPBU Jetak Mukhlisin mengatakan, di hari pertama posko pengaduan belum ada masyarakat yang melaporkan. Juga tidak ada masyarakat yang mengeluh ke petugas SPBU.
Namun pada pengiriman BBM pada Rabu (22/10) bau tidak seperti biasanya. Tepatnya jenis pertalite. ''Baunya lebih menyengat," ujarnya.
Mukhlisin menjelaskan, SPBU hanya melayani pengaduan. Sedangkan, untuk tindak lanjut dari Pertamina belum tahu. Namun kemungkinan besar akan ada ganti rugi.
''Pengaduan yang diterima akan disampaikan ke Pertamina," jelasnya. Menurut Mukhlisin, SPBU tidak bisa mengecek kandungan di dalam BBM. Sebaliknya hanya bisa memeriksa kualitas BBM dengan uji densitas. ''Hasilnya masih sesuai standar," ungkapnya. (dan/yna/irv/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko