Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sekolah Swasta Bojonegoro Sudah Punya Tradisi Makan Siang Sendiri, Jaga Gizi Melalui Katering Sekolah atau Dapur Yayasan

M. Irvan Romadhon • Rabu, 8 Oktober 2025 | 02:18 WIB
MAKAN BARENG: Siswi SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro sedang menyantap makan siang dari katering sekolah.
MAKAN BARENG: Siswi SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro sedang menyantap makan siang dari katering sekolah.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Jauh sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah Republik Indonesia (RI) berjalan. Sebagian besar sekolah swasta di Bojonegoro sudah menyediakan makan siang bagi siswa-siswinya sejak awal berdiri. Selain sekolah, sebagian besar pondok pesantren pasti ada program makan bagi santri.

Ketika program MBG berjalan, tak sedikit sekolah-sekolah swasta itu juga menerima tawaran sebagai penerima manfaat MBG, berdasar kesepakatan dengan wali murid. Namun, ada juga sekolah swasta yang memutuskan tidak menerima MBG. Harapannya, MBG bisa disalurkan ke sekolah-sekolah yang jauh lebih membutuhkan.

Data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, beberapa sekolah tersebut meliputi SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro, SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro, MI Plus Al Fatimah Bojonegoro dan SDIT Insan Permata Bojonegoro. Lalu, salah satu pondok pesantren yang juga dikonfirmasi ialah Pondok Pesantren Modern Al Fatimah Bojonegoro.

Tradisi makan siang bersama di sekolah bukan hal baru bagi SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro. Jauh sebelum program MBG dari pemerintah, sekolah ini telah rutin menyediakan makan siang bagi seluruh siswanya sejak berdiri pada 2004.

’’Sudah memberi makan ke siswa sejak berdiri pada 2004 sampai sekarang,” ungkap Ketua Komite SD Muhammadiyah 2 Solikin. Menurutnya, budaya makan siang di sekolah tersebut telah menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa, dan terakhir terdata sebanyak 630 siswa.

Namun, setelah pemerintah meluncurkan program MBG, sekolah ini memutuskan ikut serta. Menurut Solikin, keputusan itu diambil melalui hasil rapat antara komite sekolah dan wali murid. ’’Setelah adanya program MBG, rapat komite dengan wali murid sepakat ikut MBG, dan mulai dikasih awal September,” imbuhnya.

Infografis kasus keracunan MBG di Bojonegoro.  (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Infografis kasus keracunan MBG di Bojonegoro. (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Sebelumnya, kebutuhan makan siang ditanggung oleh wali murid melalui iuran rutin. Namun kini, setelah adanya program MBG, seluruh biaya ditanggung pemerintah. ’’Jadi, wali murid sudah tidak ada beban untuk makan siang. Tapi, kalau makan siangnya memang sudah jadi budaya dari dulu,” ucap Solikin.

Hal serupa dilakukan SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro yang menghentikan program makan dari sekolah yang sudah berjalan sejak awal sekolah berdiri pada 2011 dan kini ikut serta program MBG per 1 September 2025.

Sebelum ikut program MBG, program katering sekolah dilaksanakan melalui kerja sama dengan wali murid. Wali murid yang memiliki usaha di bidang katering, bergantian setiap bulan mengelola katering sekolah.

Setiap menu dirancang agar sesuai dengan kebutuhan kalori harian remaja. Mengutamakan bahan segar tanpa pengawet, serta memperhatikan keseimbangan gizi. Sistem penyajian katering sekolah dibuat prasmanan, sehingga murid bisa mengambil porsi sesuai kebutuhan mereka.

Setiap murid diwajibkan membawa alat makan sendiri sebagai bagian dari pembelajaran disiplin dan kebersihan lingkungan. Makanan yang dihadirkan dimasak fresh setiap harinya. Tak hanya soal rasa, kualitas layanan juga menjadi perhatian sekolah.

Setiap akhir bulan pihak sekolah melakukan evaluasi melalui angket kepuasan murid. Hasil evaluasi tersebut kemudian dibahas bersama penyedia katering untuk perbaikan menu maupun pelayanan.

“Kami terbuka terhadap masukan dari murid. Misalnya, soal rasa, variasi lauk, atau penyajian. Semuanya kami jadikan bahan evaluasi,” jelas Kepala SMPM 9 Bojonegoro Ferry Yudha Pratama.

Kemudian, ketika SMPM 9 Bojonegoro resmi menjadi salah satu penerima manfaat program MBG dari pemerintah, program katering sekolah dihentikan. Agar pelaksanaan MBG dapat dipantau dan dievaluasi secara menyeluruh.

Ferry menjelaskan bahwa penerimaan MBG ini tidak secara langsung, tetapi menerima dengan evaluasi di satu bulan pertama. ’’Kami ingin melihat dulu bagaimana hasil pelaksanaan MBG di sekolah. Jika baik, tentu akan kami lanjutkan. Namun, jika kurang sesuai standar yang selama ini kami terapkan, kami siap mengembalikan sistem katering sekolah,” ujarnya.

Langkah ini dilakukan sekolah sebagai wujud komitmen dalam memastikan setiap murid mendapatkan makanan yang tidak hanya gratis, tetapi juga bermutu dan bergizi seimbang. Sekolah meminta pelaksanaan MBG dapat berjalan efektif dan menjadi kelanjutan dari praktik baik yang sudah dimulai sejak lama.

Terpisah, Kepala SDIT Insan Permata Bojonegoro Nanin Meipuspa Ranie mengatakan, program katering sudah ada sejak awal berdiri di 2008. SDIT Insan Permata merupakan fullday school, sehigga memberikan progam kantin gizi. Adanya katering dari sekolah, siswa tidak diperbolehkan membawa uang saku dari Senin sampai Kamis.

’’Diperbolehkan uang saku hanya Jumat karena ada program entrepreneur day siswa,” ungkapnya. Nanin menjelaskan yang menyediakan layanan kantin gizi dari dapur sendiri di lokasi sekolah yang tetap dipantau dan evaluasi oleh yayasan.

Setelah ada MBG, SDIT tetap mendukung program pemerintah dalam upaya meningkatkan gizi dan kesehatan siswa. Tetapi dengan adanya MBG ini, lembaga tetap memberikan pilihan kepada wali murid. Jadi, progam MBG dan katering juga tetap berjalan sesuai pilihan dari wali murid.

Infografis kronologi keracunan MBG di Kedungadem
Infografis kronologi keracunan MBG di Kedungadem

Terpisah, Kepala MI Plus Al-Fatimah Nizmatul Laily menyampaikan, MI Al Fatimah juga sudah ada program makan siang. Karena full day school, jadi ada makan siang dari lembaga yang dikelola langsung oleh yayasan.

Bahkan, ada petugas tersendiri dari yayasan yang memantau terkait gizi menu makanan yang disajikan untuk para santri dan santriwati. ’’Ada petugas sendiri dari yayasan. Karena Bu Nyai langsung juga yang meng-handle terkait menu dan makan anak-anak,” ujarnya.

Dia melanjutkan, untuk pendistribusian makanan kepada anak-anak. Dilakukan dari dapur yayasan di tempatkan pada wadah atau rantang besar. Kemudian, dikirimkan ke setiap kelas-kelas pada yayasan Al Fatimah. ’’Selanjutnya, dibagikan ke piringnya anak-anak secara langsung,” jelasnya.

Selanjutnya, PPM Al Fatimah Bojonegoro juga lebih dulu memastikan santrinya mendapat makanan bergizi setiap hari. Sejak berdiri pada 2007, pesantren ini sudah memiliki dapur yayasan khusus menyiapkan menu harian untuk seluruh santri dan santriwati.

Sekretaris Yayasan Al Fatimah Ansachul Balaya mengatakan, PPM Al Fatimah belum ikut melaksanakan program makan bergizi (MBG) dari Pemerintah Presiden Prabowo untuk saat ini.

Gus Ansachul sapaannya menyampaikan, PPM Al Fatimah sudah mendapatkan tawaran untuk program MBG dari pemerintah pusat pada tahun ini. Namun, berdasar keputusan yayasan Al Fatimah, meminta dapur MBG untuk memprioritaskan sekolah-sekolah lain.

’’Berdasar keputusan pimpinan yayasan, kami meminta dapur MBG untuk mendistribusikan program MBG kepada sekolah-sekolah lain yang lebih membutuhkan. Agar bisa memenuhi gizi siswa-siswanya,” lanjutnya. (dan/irv/ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#SDIT Insan Permata #swasta #pondok pesantren #katering #wali murid #makan siang #Santri #Makan Bergizi Gratis #Siswa #bojonegoro #dapur #Gizi #SMP Muhammadiyah #Sekolah #Mbg #sekolah swasta #sd muhammadiyah #MI Plus Al Fatimah