RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Suasana mencekam yang sempat menyelimuti SMA Negeri 1 Kedungadem, SDN Tumbrasanom, dan MTS Nabawi kini mulai mereda.
Meski kondisi begitu, misteri penyebab pasti dugaan keracunan massal setelah menyantap hidangan makan bergizi gratis (MBG) itu belum terungkap.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Ninik Susmiati menegaskan, pihaknya menunggu hasil uji laboratorium.
’’Sebab, kasus seperti ini memiliki banyak kemungkinan penyebab,” jelasnya. Ninik tak ingin gegabah menyimpulkan, pihaknya pun memperluas cakupan pemeriksaan.
Selain menu makanan yang sempat dikeluhkan siswa, juga lingkungan sekolah dan dapur distribusi MBG turut diperiksa.
’’Semua sampel (diuji laboratorium) makanan, peralatan makan, dan air. Sudah kami bawa (semua) untuk dicek di Labkesda Dinkes,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Sementara, para siswa yang sebelumnya mendapat perawatan di Puskesmas maupun ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sudah dipulangkan ke rumah masing-masing.
’’Semua yang dirawat di Puskesmas sudah dipulangkan,” tambahnya. Perlu diketahui, kasus dugaan keracunan massal usai menyantap MBG ini terjadi dua hari berturut-turut di Kecamatan Kedungadem.
Pada Rabu (1/10), ratusan siswa SMA Negeri 1 Kedungadem mengalami gejala mual, pusing, hingga diare usai menyantap ransum MBG yang bersumber dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungadem.
Lalu, pada Kamis (2/10), ada tujuh siswa SDN Tumbrasanom dan sepuluh siswa MTs Nabawi juga mengalami gejala keracunan. Dua sekolah tersebut menerima MBG dari SPPG Drokilo.
Sementara itu, Polres Bojonegoro pun turun tangan menyelidiki dugaan keracunan massal makan bergizi gratis (MBG) yang melanda tiga sekolah tersebut.
Kapolres Bojonegoro, AKBP Afrian Satya Permadi menegaskan, pihaknya telah meminta klarifikasi dari berbagai pihak, mulai penyedia MBG hingga pihak sekolah penerima.
’’Pihak Polres mengambil sampel bersama Dinkes untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan di Labkesda Bojonegoro,” kata Kapolres.
Ia menuturkan, langkah itu dilakukan untuk memastikan dugaan penyebab gejala keracunan massal yang dialami ratusan siswa.
Tak hanya sampel makanan, berbagai pihak yang terkait distribusi MBG ikut dimintai klarifikasi.
’’Alhamdulillah kami (telah) klarifikasi terhadap beberapa pihak, di antaranya SPPG, Dinkes, dan Kepala Sekolah,” jelasnya.
Afrian meminta semua pihak bersabar hingga hasil laboratorium resmi keluar. Ia menegaskan, kepolisian bersama pemerintah daerah berusaha mengungkap penyebab pasti insiden ini.
’’Mohon doanya, sama-sama kita menunggu hasil dari pemeriksaan labkesda,” tandasnya. (dan/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko