RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dua hari beruntun, kejadian diduga keracunan ransum makan bergizi gratis (MBG) melanda sekolah di Kecamatan Kedungadem. Ratusan siswa tingkat SMA, MTs, hingga SD mengalami gejala pusing, mual, sakit perut hingga diare.
Peristiwa pertama menimpa siswa SMA Negeri 1 Kedungadem pada Rabu (1/10). Ransum MBG yang dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB menjadi awal dugaan penyebab sakit massal tersebut.
Keluhan mulai bermunculan sore hingga malam hari, dan berlanjut hingga keesokan paginya.
’’Keluhan di mulai kemarin (1/10) sore, malem, sampai pagi ini,” beber Kepala Desa Tumbrasanom Juminto. Dari laporan yang ia himpun, menu MBG pada hari itu terdiri atas nasi kuning, ayam suwir, tempe kering, dan acar.
Namun, makanan yang disantap itu dikeluhkan siswa, dan diduga memiliki kualitas yang kurang baik. ’’Kurang lebih 500 anak menyatakan keluhan ringan, 8 orang dilarikan ke puskesmas, 36 izin sakit, 80 anak tidak masuk,” jelasnya.
Sehari setelahnya, Kamis (2/10), giliran SD Negeri Tumbrasanom yang dilanda kejadian serupa. Sekitar pukul 10.26 WIB, sejumlah murid dilaporkan jatuh sakit setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan pagi hari.
’’Empat anak mengalami keluhan pusing, mual muntah. Setelah makan MBG jam 09.00 WIB,” ungkapnya. Belum berhenti, hingga pukul 16.00 WIB (2/10), korban juga merambah sekolah lainnya, yakni MTS Nabawi.
’’Korbannya dari SMA, SD. Tadi (2/9), ada tujuh dari MTS, bertambah terus,” imbuh Kades Tumbrasanom sekitar pukul 16.00 WIB kemarin. Ia mengaku diresahkan dengan kejadian yang menimpa warganya itu.
Kabar ini segera sampai ke telinga pemerintah daerah. Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, mengaku langsung diperintah Bupati Setyo Wahono untuk mengecek kondisi di lapangan. Ia mendapati puluhan siswa harus diperiksa baik di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) maupun puskesmas. ’’Memang diduga ini kasus makan dari MBG,” terangnya.
Perempuan asal Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, itu menambahkan, SMAN 1 Kedungadem telah menerima jatah MBG selama tiga hari berturut-turut. Namun, untuk memastikan penyebab keracunan, Nurul menegaskan makanan yang dibagikan akan diteliti. ’’Dan, rekomendasinya adalah lebih baik (SPPGnya) ditutup,” tandasnya saat pengecekan di lokasi kejadian.
Berdasar pantauannya, korban keracunan tidak hanya siswa, tapi juga guru. ’’Yang sudah masuk Puskesmas ada 22 siswa SMA, tidak masuk (sekolah) 60 siswa, dan ada tiga guru. Kemudian, hari ini (2/10) disusul siswa SD ada 7 anak,” terang Nurul. (dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana