Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Temukan Ayam Gayatri Belum Bertelur, Tercatat Baru 10 Desa di Bojonegoro yang Mulai Bertelur

Dhani Wahyu Alfiansyah • Selasa, 23 September 2025 | 14:55 WIB

 

Ilustrasi Program Gayatri (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Program Gayatri (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Realisasi Program Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) yang digulirkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menunjukkan hasil, meski masih banyak catatan temuan di lapangan.

Produktivitas ayam petelur belum merata, sejumlah persoalan teknis masih membayangi pelaksanaan program tersebut.

Termasuk, ditemukan ayam sudah sekitar satu bulan diterima keluarga penerima manfaat (KPM). Tapi, masih belum bertelur.

‘’Sudah sekitar sebulan, tapi belum ada yang bertelur,’’ kata salah satu warga penerima Program Gayatri di Kecamatan Kapas, Sholihudin kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Menurut dia, sebelumnya ada pelatihan untuk para calon penerima. Mulai dari cara merawat hingga meningkatkan nilai tambah dari telur program gayatri.

Termasuk tentang standar ayam yang diterima KPM. Misalnya tentang umur dan bobot ayam gayatri.

Saat pelatihan ditegaskan KPM berhak menolak jika ayam bantuan tidak sesuai standar. ‘’Tapi kami dapat ilmunya itu saat sudah menerima, mau menolak bagaimana?,’’ keluhnya.

Meski belum bertelur, kata dia, dia tetap sabar untuk merawat dengan harapan segera bertelur.

Realisasi program gayatri itu mendapat sorotan, berdasarkan pantauan Giri Foundation di lapangan. Masih banyak temuan tentang penyaluran yang belum sesuai sesuai dengan aturan.

‘’Program unggulan Pemkab Bojonegoro ini memiliki program yang bagus untuk menekan kemiskinan, tapi belum selaras dengan praktik di lapangan,’’ kata Ketua Giri Foundation Rian Adi.

Dia mengajak semua warga ikut mengawal program unggulan pemkab, jangan sampai mimpi Bupati dan Wakil Bupati untuk menekan masalah kemiskinan, justru menambah masalah baru di kemudian hari.

Misalnya, ditemukan penyimpangan tentang penyerapan anggaran, karena penyaluran ayam dan kandang tidak sesuai ketentuan, dan berujung ke ranah hukum.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Fajar Dwi Nurrizki menyebutkan, 10 desa penerima bantuan Gayatri tahun ini, mulai menunjukan hasil.

"Meliputi Desa Bondol dan Sengon (Kecamatan Ngambon), Desa Sumberbendo dan Cancung (Bubulan), Desa Sekar dan Klino (Sekar), Desa Turi dan Kacangan (Tambakrejo), serta Desa Gondang dan Senganten (Gondang)," terangnya.

Dari laporan sementara, Kecamatan Sekar mencatat produktivitas tertinggi karena lebih awal menerima pengiriman ayam. “Rata-rata, setiap keluarga penerima manfaat menghasilkan 44 butir telur per hari dari 54 ekor ayam yang dibagikan. Secara persentase, sudah di atas 80 persen,” jelas Fajar.

Meski angka produktivitas mulai terlihat, praktik di lapangan tidak sepenuhnya berjalan mulus.

Berdasarkan data produktivitas telur dari Disnakkan per Agustus, sebanyak 54 ekor ayam dibagikan per penerima, menghasilkan telur berbeda mulai 3 butir, 12, 19, hingga tertinggi 44 butir telur per hari. 

Dosen sekaligus praktisi peternakan Awaludin Ridwan mengingatkan, bahwa beternak ayam petelur tidak bisa dianggap mudah. “Emang tidak semudah ayam kampung. Peternak harus telaten dan punya pengalaman,” ujarnya.

Awaludin menambahkan, kondisi iklim menjadi faktor rawan. Perubahan cuaca ekstrem memicu penyakit bakterial yang berisiko pada kematian ayam. “Rata-rata kematiannya per peternak bisa lebih dari 20 persen pada periode yang sama,” ungkapnya. (dan/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Ayam petelur #peternakan #gayatri #bertelur #Disnakkan #program #bojonegoro