RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Cuaca terik menandai puncak musim kemarau di Bojonegoro. Meski dilanda kemarau basah, namun ancaman kebakaran tetap meningkat selama Agustus, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal itu membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Dindamkarmat) mengibarkan bendera kewaspadaan.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Bojonegoro Agus Purnomo menyampaikan, bahwa kewaspadaan juga perlu diperhatikan masyarakat, seperti tidak membakar sampah secara terbuka tanpa pengawasan, tidak melakukan pembakaran sisa panen di dekat permukiman.
’’Serta menghindari membuka lahan dengan cara dibakar. Selain itu, jangan sembarangan membuang puntung rokok,” tegasnya. Peringatan itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan catatan BPBD, sejak Januari hingga Agustus 2024, telah terjadi 78 peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Bojonegoro.
Ironisnya, 71 di antaranya terjadi di tengah musim kemarau—sebagian besar dalam hitungan hari pada bulan Agustus. Lonjakan tajam ini menjadi sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan.
Sementara itu, Kepala Dindamkarmat Bojonegoro Siswoyo mengingatkan, bahwa bahaya bukan hanya datang dari hutan, tetapi juga dari dalam rumah. ’’Cuaca panas akhir-akhir ini ditambah adanya unsur kelalaian manusia meningkatkan risiko keselamatan,” katanya.
Ia menekankan, pentingnya memeriksa jaringan listrik secara berkala, menghindari penggunaan steker bertumpuk, serta segera mengganti kabel yang gosong atau terkelupas. Tak kalah penting, pengecekan tabung gas elpiji, selang, dan regulator harus rutin dilakukan.
’’Jangan membakar sampah atau meninggalkan api tanpa pengawasan, baik itu bediang sapi maupun lilin. Bila tercium aroma menyengat, segera buka ventilasi dan jauhkan dari sumber api,” pungkasnya. (dan/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko