RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sederet tantangan di dunia pendidikan harus dihadapi di Bojonegoro. Selain pengembangan kualitas pendidikan. Percepatan kejar paket B dan C juga diperlukan.
Masih ada sekitar 6.355 warga yang belum menuntaskan pendidikan SMP dan SMA. Di sisi lain, peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) menjadi salah satu prioritas yang terus digalakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro saat ini.
Wakil Bojonegoro (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah menyampaikan tiga fokus utama yang menjadi prioritas Pemkab Bojonegoro. Diantaranya, penurunan angka kemiskinan, meningkatkan IPM, dan pertumbuhan ekonomi. Untuk IPM, posisi Bojonegoro masih berada di peringkat 26 di Jawa Timur.
Menurutnya, beberapa upaya dilakukan Pemkab Bojonegoro. Seperti, penataan sumber daya manusia (SDM), termasuk di bidang pendidikan. Beberapa program telah dilaksanakan. Meliputi, pengembangan SMA Taruna Pamong Praja sebagai sekolah unggulan, satu-satunya di Indonesia ada di Bojonegoro.
Selain itu, Bojonegoro juga menjadi daerah dengan penambahan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) terbanyak di Indonesia.
“Pengangkatan tenaga harian lepas (THL) menjadi PPPK menghadapi tantangan anggaran yang signifikan. Anggaran pegawai saat ini mencapai sekitar Rp 2,5 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp 1,8 triliun,” terangnya.
Sosok perempuan asal Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander tersebut melanjutkan, dalam upaya peningkatan IPM, masih terdapat 6.355 masyarakat Bojonegoro belum menuntaskan pendidikan jenjang SMP dan SMA.
“Ini menjadi PR bersama. Bagaimana skema terbaik untuk meningkatkan program kejar paket B dan C, ” ujarnya.
Wabup menambahkan, tantangan dunia pendidikan saat ini, banyak sekolah swasta diminati karena menawarkan pelayanan dan kepercayaan yang lebih baik. Sehingga, diperlukan kebijaksanaan dan sinergi kuat antara PGRI dan Pemkab untuk memajukan dunia pendidikan di Bojonegoro. (ewi/zim)
Editor : M. Nurkhozim