RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro masih belum terbebas dari warga yang miskin ekstrem. Bukan hanya di pedesaan. Sebaliknya, di perkotaan masih tercatat 1.314 penduduk miskin ekstrem di Kecamatan Kota per semester dua 2024.
Tersebar di 18 desa/kelurahan. Tertinggi di Kelurahan Ledok Kulon, yakni sebanyak 220 warga. Kemiskinan tidak bisa dihapus melainkan dikurangi.
‘’Data kemiskinan ekstrem ini berdasarkan damisda (data mandiri masyarakat miskin daerah),’’ kata Camat Bojonegoro Muchlisin Andi Irawan kemarin (19/5).
Dia menjelaskan, berdasar data damisda, tercatat sebanyak 1.314 warga miskin ekstrem per semester dua 2024. Tersebar di 18 desa/kelurahan. Menurun tujuh warga dibanding semester pertama, yakni 1.321 warga.
Rinciannya Kelurahan Kepatihan sejumlah 41 warga; Kelurahan Karangpacar 39 warga; dan Kelurahan Banjarejo 96 warga berkurang dari 100 warga.
Dilanjutkan Kelurahan Ledok Kulon sebanyak 220 warga; Kelurahan Ngrowo sebanyak 119 warga; Kelurahan Kadipaten 86 warga berkurang dari 87 warga; dan Kelurahan Kauman 90 warga bertambah dari 89 warga. Kemudian, Kelurahan Sumbang sejumlah 45 warga; Kelurahan Ledok Wetan 46 warga; Kelurahan Mojokampung 18 warga; serta Kelurahan Jetak 17 warga.
Disusul Desa Sukorejo sebanyak 90 warga, berkurang dari 91 warga; Desa Klangon sejumlah 26 warga; Desa Kalirejo sebanyak 121 warga; dan Desa Campurejo 125 warga dari sebelumnya 127 warga. Serta, Desa Mulyoagung 33 warga; Desa Pacul 67 warga; dan Desa Semanding 35 warga.
Andi melanjutkan, ada kemungkinan perubahan data di semester awal tahun ini. Sebab, data bersifat dinamis dan masih menunggu finalisasi data tunggal sosial dan ekonomi nasional (DTSEN). "Yang nantinya terintegrasi jadi satu baik data dari PKH (program keluarga harapan), DTKS (data terpadu kesejahteraan sosial), maupun damisda," terangnya.
Menurut dia, warga dalam kategori miskin ekstrem berdasar beberapa kriteria dari hasil survei. Di antaranya pendapatan, volume (watt) listrik, hingga lantai rumah. Sedangkan, kemiskinan ini, tidak bisa dihapuskan melainkan dikurangi. Klaimnya, beberapa upaya telah dilakukan.
Meliputi program gerakan ayam petelur mandiri atau gayatri; pelatihan keterampilan seperti menjahit, pijat bagi tuna netra, maupun usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM); serta menciptakan lapangan kerja dengan menarik investor.
Pria kelahiran Bondowoso itu menambahkan, beberapa perubahan data baik pengurangan mau penambahan dikarenakan warga meninggal dunia, sudah layak, dan pindah domisili. "Ada yang sudah meninggal dunia dan ekonominya membaik," pungkas pria domisili Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas itu. (yna/)
Editor : Yuan Edo Ramadhana