Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kabupaten Bojonegoro Kehilangan 3.200 Lebih Petani per Tahun: Ini Jawaban BPS dan DKPP

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 15 Maret 2025 | 02:10 WIB

BAJAK SAWAH: Seorang petani di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu sedang membajak sawahnya menggunakan traktor.
BAJAK SAWAH: Seorang petani di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu sedang membajak sawahnya menggunakan traktor.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bojonegoro punya klaim sebagai salah satu pusat lumbung pangan dan energi Indonesia. Meskipun demikian, tentu tidak semua warga Kota Ledre bekerja sebagai petani. Berdasarkan data sensus pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, jumlah petani di Bojonegoro mengalami perubahan cukup signifikan. Meskipun, jumlah petani sendiri masih tergolong banyak.

“Sensus kami lakukan 10 tahun sekali, untuk bidang pertanian dilakukan setiap tahun akhiran ‘3’. Jadi, terakhir kami lakukan pada 2023 lalu, kemudian sebelumnya lagi tahun 2013. Sehingga dalam dua tahun setelah sensus terakhir masih ada kemungkinan perubahan jumlah,” jelas Kepala BPS Bojonegoro, Kiki Ferdiana.

“Untuk hasil Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sendiri, angkanya pada tahun 2023 lebih sedikit dibanding 2013. Salah satu faktor turunnya jumlah UTP disebabkan oleh berkurangnya lahan pertanian yang ada,” lanjut Kiki.

Kiki melanjutkan, ada 274.512 unit usaha pertanian pada tahun 2023, 274.497 diantaranya merupakan UTP. Enam sisanya merupakan usaha pertanian berbadan hukum, dan sembilan lainnya merupakan usaha tani lain.

Menarik kembali data BPS, pada tahun 2013 terdapat 366.484 petani yang disensus berdasarkan jenis kelamin, yakni 235.716 petani lelaki dan 130.768 petani perempuan. Sementara pada 2023, jumlah petani yang tersensus menurun sedikit menjadi 333.951 petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan kehutanan.

Sehingga, terdapat selisih sebanyak 32.533 petani dalam jangka waktu 10 tahun. Dengan kata lain per tahunnya, rata-rata Kabupaten Bojonegoro kehilangan petani sebanyak kurang lebih 3,2 ribu petani.

Dari jumlah tersebut di tahun 2023, 258.868 petani memiliki lahan pertanian, dan dari jumlah tersebut, 187.354 diantaranya merupakan petani ‘’gurem’’ (punya lahan kurang dari setengah hektar). Kemudian dari total petani yang ada pada 2023, 211.091 petani berasal dari generasi milenial, yakni berumur 19 hingga 39 tahun pada tahun tersebut.

Pada 2013, rerata lahan yang dipakai untuk bertani berjumlah 2.980 hektar untuk sawah, dan 1.022 hektar selain sawah. Sementara pada 2023, rerata lahan yang dipakai turun sedikit, yakni 2.857 hektar untuk keperluan sawah dan 935 hektar untuk keperluan selain sawah.

Sementara pada tahun ini, hingga Jumat (14/3), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro mencatat 191.588 petani yang terdaftar dalam sistem Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) mereka.

“Tentu jumlah ini bisa bertambah lagi, terlebih luas lahan sawah yang tercatat juga baru ada 83.197 hektar, serta ada update setiap minggunya,” jelas Kepala Bidang SDM dan Pembiayaan DKPP Bojonegoro, Zaenul Ma’arif.

“Kemudian kesepakatan dan pola kerja petani juga memengaruhi jumlah lahan tersebut. Bisa jadi ada petani yang tidak lagi sewa lahan, atau ada beberapa petani yang memutuskan memecah satu lahan menjadi beberapa petak lebih kecil,” tambah Zaenul. (edo/cho)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#sawah #BPS Bojonegoro #lahan pertanian #indonesia #badan pusat statistik #dkpp #usaha pertanian perorangan #Petani #Sensus #Pertanian #Ketahanan Pangan #RDKK #bojonegoro #bps #DKPP Bojonegoro