BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Rerata pedagang pasar tradisional di Kecamatan Kota mengeluh kondisi kian sepi. Dari pengunjung hingga pembeli. Terutama peadagang pakaian.
Penyebabnya beragam, mulai isu pemindahan pasar sampai minimnya event menarik wisatawan. ‘’Ini masalah rerata dialami secara nasional. Pasar tradisional semakin sepi,” ujar Ketua Paguyuban Pasar Pedagang Pasar Kota Wasito kemarin (3/3).
Dia melanjutkan, kondisi sepinya pasar tradisional menjadi bahasan rerata pedagang seperti Pasar Dander hingga Banjarejo. Untuk kebutuhan pokok dan bumbu dapur masih bisa dikatakan ramai. Tetap dikunjungi pembeli.
Sedangkan, untuk pedagang pakaian semakin hari makin sepi. ‘’Kalau di Pasar Kota ini problem awalnya karena isu dipindahkan. Sebelumnya ramai,” beber pria domisisli Kelurahan Karang Pacar, Kecamatan Kota itu.
Padahal, tegas dia, seluruh pedagang menolak dan menyakini memiliki bukti sah untuk menempati. Yakni akta notaris. Setidaknya sebanyak 1.285 pedagang memiliki hak guna. Meski saat ini tercatat aktif sekitar 1.191 pedagang.
‘’Tapi, dari obrolan sebelumnya dengan bupati dan wabup (wakil bupati) tidak akan memindah pasar. Karena ini ikon sejarah Bojonegoro,” imbuhnya.
Sehingga, kata dia, kini pedagang bisa sedikit bernapas lega terkait lokasi. Namun, yang jadi keluhan rerata pedagang berbagai pasar tradisional adalah uang sewa.
Pedagang berharap tidak menggunakan sistem sewa. Namun, retribusi. ‘’Karena kalau sewa dipakai atau tidak bidak (lapak) tetap bayar. Sedangkan retribusi hanya bayar saat digunakan,” katanya.
Dia berniat, membawa pembicaraan ini ke ranah lebih serius. Mengajukan ke instansi terkait hingga pemerintah kabupaten (pemkab). Terkait Pasar Kota, tambah dia, ada rencana diperbaiki namun belum tahu waktu pelaksanaan. ‘’Untuk anggaran ini yang kami belum tahu,” lanjut pria 61 tahun itu.
Terpisah, Anggota Paguyuban Pasar Wisata (Parwis) Niken Ratna mengeluh, kondisi parwis semakin sepi. Terutama di lantai 2. Banyak pedagang gulung tikar dan memilih pekerjaan lain.
Sebab, tidak ada jaminan pasti pasar kembali ramai seperti awal. ‘’Lantai 2 gedung B sudah tidak ada penghuninya. Mirip rumah hantu,” ujar Niken.
Dia mengatakan, sepinya pasar mulai dirasakan sejak lebaran 2023. Sejak sudah tidak ada lagi event digelar. Padahal, pasar itu menjadi harapan baru masyarakat sekitar dan pedagang untuk meningkatkan ekonomi saat awal dibuka.
‘’Harusnya diadakan pekan budaya di parwis. Seperti oklik. Dan desain ulang agar menjadi ikon kreatif Bojonegoro,” ujarnya.
Niken berharap, bupati dan wabup saat ini memiliki konsen untuk menghidupkan kembali UMKM terutama untuk parwis. Dibuka dengan tata kelola menarik.
‘’Jadi, kalau tidak ada yang buka jangan hanya menyalahkan pedagang yang mundur. Modal saya saja sudah habis buat enam bulan,” pungkasnya. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana