BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Aktivitas pasar hewan di Bojonegoro masih belum pulih. Bahkan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro kembali memperpanjang masa penutupan hingga 19 Februari mendatang.
Hal itu disebabkan penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) terpantau belum mereda. Dan, belum meratanya vaksinasi pada hewan ternak. Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Peternakan Disnakkan Bojonegoro Lutfi Nurrohman menyampaikan, bahwa awalnya aktivitas pada hewan ditutup sampai 4 Februari lalu.
Namun, penutupan diperpanjang setelah melihat jumlah sapi terpapar PMK masih tinggi. ’’Sampai 4 Februari, ada 756 ekor sapi yang terjangkit (PMK),” terangnya. Lutfi menambahkan, bahwa perpanjangan ini dilakukan selama dua minggu atau pada 19 Februari mendatang.
Namun, apakah bakal langsung dibuka nantinya, hal ini perlu melihat data penyebarannya. ’’Pasar hewan yang ditutup yakni Baureno, Sumberrejo, dan Padangan,” imbuhnya. Sementara itu, hingga saat ini, jumlah vaksin yang dibagikan belum mengalami penambahan. Yakni, 7.050 dosis vaksin.
Pihaknya memastikan, bahwa seluruh vaksin itu telah didistribusikan seluruhnya. ’’Sudah disuntik seluruhnya dan tambahan vaksin insyaallah segera datang,” bebernya.
Sementara itu, Lia Nur Aini, dokter hewan asal Kecamatan Balen mengungkapkan, kasus PMK pada hewan sapi hingga kambing, memang membutuhkan mitigasi dan pertolongan yang cepat. Menurutnya, perlu adanya imbauan pada peternak untuk segera melaporkan hewan ternaknya yang diduga PMK.
’’Kalau segera ditangani, persentase kesembuhannya lebih besar,” ungkapnya. Namun, hal tersebut belum banyak diketahui oleh peternak. Bahkan, rerata pemilik sapi masih belum mengetahui ke mana harus melaporkannya.
’’Kalau mengalami gejala PMK, harus segera menghubungi dokter hewan terdekat, dan petugas kesehatan hewan di wilayah masing-masing,” imbaunya. (dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana