Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Musim Hujan Belum Berlalu, 29 Nyawa Warga Bojonegoro Melayang di Sungai

Hakam Alghivari • Senin, 27 Januari 2025 | 19:45 WIB
PENCARIAN: Personel Tim SAR Gabungan BPBD Bojonegoro melakukan pencarian orang tenggelam di Bengawan Solo turut Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota pada Agustus 2024 lalu.
PENCARIAN: Personel Tim SAR Gabungan BPBD Bojonegoro melakukan pencarian orang tenggelam di Bengawan Solo turut Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota pada Agustus 2024 lalu.

Setiap musim hujan tiba perlu meningkatkan kewaspadaan. Sebab, ragam bencana hidrometeorologi senantiasa mengintai. Seperti angin kencang, banjir, dan tanah longsor. Juga laka air sering terjadi ketika musim hujan.


BANJIR di musim hujan menjadi bencana langganan di Kabupaten Bojonegoro setiap tahunnya. Namun, tak hanya menghadapi bencana rutinan itu, masyarakat juga berhadapan dengan tren bencana hidrometeorologi lain seperti angin kencang.

Bahkan, angin kencang di musim penghujan tahun lalu, mendominasi bencana di Kota Minyak. Beragamnya jenis bencana di Bojonegoro ini, membuat pemerintah setempat harus bekerja lebih keras. Terlebih, bencana dapat memperburuk kondisi ekonomi, hingga memakan korban jiwa.

Terbaru, naiknya sungai Bengawan Solo pada 21 Januari lalu, membuat warga di Desa/Kanor yakni Taslam, 60, tenggelam saat mencari kayu di aliran bengawan. Dan, hingga kemarin (26/1) masih belum ditemukan. ’’Pencarian hari ini (kemarin), sudah hari terakhir, korban belum ditemukan,” ungkap Kepala Desa (Kades) Kanor Jono.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Laela Nor Aeny menyampaikan, bahwa saat memasuki musim penghujan, masyarakat perlu berhati-hati dan menghindari aliran air. Baik sungai, waduk, hingga embung.

’’Sebab, kondisi penghujan ini, lebih rawan terjadi bencana, karena licin. Dan, musim hujan diprediksi masih berlangsung hingga Februari,” imbuhnya. Menurutnya, pada awal 2025 ini, Bojonegoro masih diselimuti potensi bencana hidrometeorologi berdasar prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pihaknya pun mengevaluasi berbagai bencana pada tahun lalu. ’’Evaluasi kami pada 2024, yang menjadi perhatian khusus adalah musim penghujan,” ungkap Aeny. Pihaknya membeberkan, berdasar data BPBD Bojonegoro, bencana hidrometeorologi saat musim hujan seperti angin kencang lumayan mendominasi.

Pada tahun lalu, 71 kejadian angin kencang berdampak di 67 desa dan 224 KK. Bahkan, kerugian materiil ditaksir mencapai Rp 1,47 miliar, beruntung tidak ada korban jiwa. Selain itu, bencana banjir telah terjadi sedikitnya 11 kali, yang merambah 71 desa dan lebih dari 1.762 KK.

Banjir tersebut meliputi luapan Bengawan Solo, banjir genangan, dan banjir bandang.  Sementara itu, kasus warga tenggelam atau kecelakaan (laka) air menjadi yang paling banyak memakan korban jiwa. ’’Tercatat 27 kejadian warga tenggelam di 25 desa. Ada 29 korban jiwa, warga selamat ada dua jiwa,” imbuhnya.

Aeny menuturkan, bahwa salah satu kendala dalam penanganan bencana, yakni pada kejadian tanah longsor. Sebab, terjadi di area hutan dan bantaran sungai Bengawan Solo. Juga lokasi tersebut menjadi kewenangan instansi lain, meski selama ini tetap terjun ke lokasi. (dan/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#longsor #warga #bengawan solo #Sungai #banjir #bojonegoro #Nyawa #Musim Hujan #angin kencang