BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Tanggul Kali Ingas di area persawahan Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor, kembali jebol kemarin (18/12) sekitar pukul 6.00. Peristiwa ini bukan kali pertama, hampir setiap tahun terjadi sejak 2007.
Jebolnya tanggul ini berdampak ke lahan pertanian di Kecamatan Kanor dan Baureno, tersebar di enam desa. Tepatnya sekitar 847 lahan pertanian terendam.
Butuh solusi jangka panjang, agar jebolnya tanggul tidak menjadi langganan setiap tahun.
‘’Ya tahun lalu sudah pernah jebol, sekarang yang jebol di sisi utaranya,” ungkap Kapolsek Kanor Iptu Slamet Hariyanto kemarin.
Menurutnya, jebolnya tanggul bermula dari meluapnya kali Ingas sejak Senin (16/12), bersamaan dengan meningkatnya elevasi Sungai Bengawan Solo.
Iptu Slamet menambahkan, pasca jebolnya tanggul tersebut, warga bersama personel TNI-Polri, BPBD, BBWS dan perangkat desa berupaya membendung air yang mengalir deras menggunakan bambu, sesek, terpal serta karung berisi tanah untuk penanganan darurat.
Ratomo, warga Desa Kedungprimpen mengatakan, bahwa ratusan hektare tanaman padi yang baru tanam sekitar 40 sampai 50 hari, ikut terdampak luberan air. Menurutnya, jebolnya tanggul tersebut selalu terjadi hampir setiap tahun sejak 2007 silam. ‘’Hampir setiap tahun selalu jebol,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, mencatat dampak jebolnya kali afvour dua kecamatan tersebut. ‘’Luas (sawah) terancam akibat rusaknya tanggul kali apur yakni 847 hektare di kecamatan Kanor dan Baureno,” ungkap Kepala Bidang Sarana, Prasarana dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro Retno Budi Widianti kemarin.
Berdasarkan data DKPP, area persawahan terdampak meliputi Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor. Kemudian, Desa Pucangarum, Pomahan, Karangdayu, Kadungrejo, dan Kauman di Kecamatan Baureno. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana