BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Petani di 15 desa yang tersebar di tiga kecamatan tergantung dari sumber air di Waduk Pirang di Desa Jatiblimbing, Kecamatan Dander.
Pengelolaan dari Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PUSDA) Provinsi Jawa Timur UPT Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) Bojonegoro belum maksimal. Karena tidak ada transparansi jadwal distribusi ke lahan petani.
Sehingga, petani mendesak ada kepastian jadwal, agar tidak terjadi konflik antarpetani. Terutama petani di hilir yang merasa dirugikan hingga gagal panen karena kekeringan, petani berharap distribusi air irigasi diperjelas dengan mengedepankan keadilan.
Selain krisis air dipicu ketidaksesuaian jadwal pembagian, diduga ada pabrik air minum di wilayah Kecamatan Dander yang dipertanyakan izin operasionalnya.
‘’Saya sering mendapat keluhan dari petani, akhirnya kami coba mengidentifikasi penyebab berkurangnya debit air,” ungkap Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kecamatan Dander Maftukhin.
Pria yang juga Kepala Desa (Kades) Ngraseh, Kecamatan Dander itu menambahkan, terdapat poin-poin penting yang disampaikan petani, seperti ketidaksesuaian jadwal pengelolaan air, dan keberadaan pabrik air minum di Desa Kunci, yang diduga mengurangi debit air hingga 30 persen. ‘’Selain itu, perlunya perluasan wilayah untuk penampung air,” terangnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kasi Operasi Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Timur UPT Bojonegoro PU SDA Jatim Teguh Prasetyo menyampaikan, mengaku telah menerima surat aduan masyarakat di Kecamatan Dander.
‘’Memang sudah menerima aduan, dan bakal kami datangi lokasinya besok (10/12),” ungkapnya kemarin.
Selain itu, Teguh membenarkan beberapa faktor yang menyebabkan petani kekurangan air, meski PSDA telah mengukur ketersediaan air dengan luas lahan. ‘’Memang pembagian airnya ada yang sengaja mengganti tak sesuai jadwal, tentu kami juga tak mungkin memantau 24 jam,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Selain itu, juga membenarkan adanya pabrik air minum yang ikut memengaruhi debit air. Namun, pihaknya menilai salah satu faktor terbesar yakni semakin banyaknya pompa-pompa liar di aliran irigasi. ‘’Paling memengaruhi yakni adanya pompa-pompa liar itu, ada sekitar 300 atau lebih,” pungkasnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana