BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Ancaman kekeringan di Bojonegoro sebenarnya bisa diantisipasi, karena memiliki 575 sumber mata air. Rinciannya 564 dengan skala kecil dan sebelas kategori besar.
Namun, disayangkan sumber mata air tersebut terancam jika hutan semakin gersang. Sebab, tidak ada reservoir atau daerah resapan air.
‘’Seperti pembahasan dalam World Water Forum di Bali, air ini memiliki posisi strategis dalam FEW (food, energy, and water). Artinya penting kaitannya dengan bencana dan kesejahteraan,” jelas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Bojonegoro Heri Widodo, Rabu (24/7) sore.
Berdasar data Dinas PU SDA Bojonegoro, terdata sebanyak 564 sumber daya air skala ringan dan sebelas kategori besar. Menurut Heri, ini diukur dari debit air baik ketika musim hujan maupun kemarau.
Untuk skala besar meliputi sumber air Ngunut di Desa Ngunut, Kecamatan Dander; sumber mata air kunci di Desa Kunci, Kecamatan Dander; dan sumber mata air rondomori di Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang.
Kemudian, sumber mata air Klino dan molekat di Desa Klino, Kecamatan Sekar; sumber mata air Gunungsari di Desa Gunungsari, Kecamatan Baureno; sumber mata air Sd. Brojul di Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan; serta sumber mata air Sd. Sonorejo di Desa Sonorejo, Kecamatan Padangan.
Baca Juga: Tunggakan PBB-P2 Bojonegoro Tembus Rp 19,4 Miliar, Pembayaran di 359 Desa Belum Lunas
Dilanjutkan, sumber mata air Sd. Budengan di Desa Ngradin, Kecamatan Padangan; sumber mata air kedungsari di Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang; dan sumber mata air Cancung di Desa Cancung, Kecamatan Bubulan.
Pria domisili Kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro itu melanjutkan, masalah pokok sumber daya air cukup kompleks. Salah satunya krisis perilaku yang mengakibatkan pencemaran hingga kerusakan ekosistem. Membuat sumber mata air terancam.
‘’Sedangkan, wilayah Bojonegoro ini sekitar 30-40 persen berasal dari kawasan hutan. Terutama wilayah selatan. Namun, kondisi saat ini tidak dipungkiri semakin terkikis. Kalau tidak ada resapan ini membahayakan. Dari sumber mata air hingga banjir bandang atau longsor,” tegasnya.
Dengan kondisi kawasan hutan saat ini, dia menyebutnya hutan profesor. Artinya pohon masih ada di kawasan pinggir hutan. Namun, kosong atau tidak ada di tengah lahan. Sehingga, tutur dia, perlu upaya mencegah dan mengatasi kerusakan atau ancaman bencana yang terjadi.
‘’Salah satunya dengan menjaga kawasan hutan. Tidak menebang sembarangan hingga membuat embung untuk menjaga ketersediaan air,” pungkasnya. (yna/msu)