BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Wilayah hutan di Bojonegoro masih belum terbebas dari kasus illegal loging atau pembalakan liar. Buktinya, sejak Januari hingga Maret tahun ini, 319 pohon hilang.
Pencuri yang nekat menebang kayu itu rerata alasan keterbatasan masalah ekonomi. ‘’Kasus pencurian selalu ada. Tapi, dalam skala kecil,’’ kata Kasi Tata Kelola dan Usaha Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Bojonegoro Rizki Firmansyah pada Jumat (5/4).
Rizki menjelaskan, berdasar data CDK Bojonegoro, sebanyak 319 pohon dicuri dalam kurun waktu tiga bulan. Rinciannya 32 kejadian 96 pohon di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bojonegoro; 54 kejadian 134 pohon di KPH Padangan; 13 kejadian 45 pohon di KPH Parengan; dan sembilan kejadian 16 pohon di KPH Jatirogo. Disusul satu kejadian dua pohon di KPH Saradan; sembilan kejadian 26 pohon di KPH Cepu; sedangkan nihil di KPH Ngawi.
Rizki melanjutkan, kejadian pencurian kayu masih skala kecil. Sebab, setiap kejadian hanya satu hinga dua pohon dicuri. Jenis kayu dicuri yakni A1 atau pohon berdiameter 7-20 sentimeter dan A2 atau pohon berdiameter di bawah 30 sentimeter. Sudah jarang A3 atau diameter di atas 30 semtimeter. Rerata alasannya karena masalah ekonomi. ‘’Tapi, salah jika kejadian tersebut dijadikan kebiasaan hingga menjadi mata pencaharian,’’ tegasnya.
Dalam proses penindakan, jelas dia, diawali laporan politi hutan (polhut) dan pengumpulan bukti kemudian, dilimpahkan ke kepolisian sektor (polsek) setempat. Setelah terbukti polsek berkirim surat ke CDK meminta saksi ahli.
Regulasinya diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. ‘’Ancaman hukuman kurungan penjara,’’ ujar pria domisili Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.
Dia menuturkan, untuk mencegah kejadian berulang harus ada kerja sama dengan masyarakat san organisasi masyarakat (ormas). Misal kelompok tani hutan (KTH) dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). ‘’Untuk lokasi pencurian merata di seluruh KPH,’’ pungkas lulusan Institut Pertanian Bogor itu. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana