BLORA, Radar Bojonegoro – Peringatan 117 tahun Perjuangan Samin Surosentiko tampak menyala dengan tradisi lamporan dan brokohan (kirab obor).
Sedulur Sikep dari berbagai penjuru berkumpul di pendapa, mengarak gunungan hasil pertanian. Tegaskan masalah isu lingkungan dan keadilan.
Kompak jalan kaki sambil membawa obor dengan jarak sekitar 1 Kilometer dari SD Negeri Kediren sampai Pendapa Pengayoman Samin Surosentiko, Ploso Kediren pada Jumat (15/3) malam.
Salah satu tokoh Samin, Gunretno menjelaskan, peringatan ini sudah dilakukan tiga tahun terakhir. Setiap 15 Maret diperingati sebagai perjuangan si Mbah Samin Surosentiko. Terhitung perjuangan hingga kini sudah 117 tahun. Peringatan tersebut merupakan wujud melanjutkan perjuangan leluhur.
‘’Kami bukan sekadar datang memeringati secara fisik. Tapi sadar diri merasa perjuangan Samin ini belum selesai. Karena perjuangan keadilan akan terus ada,’’ katanya.
Peringatan tak sekadar seremonial, para anak cucu Samin dan keturunannya di mana pun harus punya kepekaan atas masalah yang berkembang. Serta berkontribusi pada upaya menyelesaikan permasalahan yang ada.
‘’Pada peringatan tahun ini kami mengambil tema lelaku jejege adil. Ini bukan hanya mengkritik pemerintah. Sekadar teori. Tapi harus diwujudkan pada laku diri,’’ tambahnya.
Fenomena bencana di mana-mana perlu kesadaran semua pihak. Ekosistem sedang rusak. Persoalan lingkungan di depan mata. Baik soal yang sifatnya gangguan terhadap pertanian dalam wujud penyakit dan hama, serta soal kebijakan dan peraturan yang justru tidak berpihak pada lingkungan.
‘’Kami menyerukan untuk eling bahwa kita dihidupi alam. Harus dirawat. Tidak merusak,’’ tuturnya. (luk/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana