BOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Para orang tua bersiap diri menyambut bulan suci Ramadan 1445 Hijriah tahun ini. Terutama, orang tua memiliki anak kecil. Mereka juga mempersiapkan untuk mengajari anak-anaknya memulai menjalankan puasa. Meski, tidak sedikit keraguan hingga kekhawatiran muncul.
Tantangan para orang tua yang punya anak kecil tidak mudah. Bukan hanya mempersiapkan menu masakan sahur dan buka. Tapi, juga mulai mengajarkan puasa sedari dini.
Siti salah satu orang tua asal Desa Sumberarum, Kecamatan Dander mengatakan, sempat ada keraguan ketika mengajarkan anaknya yang berusia lima tahun belajar berpuasa. Selain ragu anaknya tidak menurut, juga ada rasa waswas terhadap kesehatan sang anak.
Namun, rasa ragu dan khawatir tersebut dilawan, demi membiasakan diri si kecil untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadan. ’’Melawan keraguan agar nanti ke depan anak-anak menjadi semakin terbiasa. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Jadi, harus dilawan demi kebaikan anak ke depan juga,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Tutik orang tua asal Desa Balenrejo, Kecamatan Balen. Bahwa, sebenarnya setiap orang tua pasti memiliki rasa was-was atau khawatir ketika bulan Ramadan. Jika anak belum terlatih berpuasa sejak kecil, maka akan kaget.
Selain itu, anak juga belum tentu mau berlatih puasa. ’’Saya sendiri memiliki langkah-langkah untuk mempersiapkan anak agar bersiap puasa sejak dini,” ujar ibu satu anak tersebut. Dia menyampaikan, anak mulai dikenalkan dengan bulan Ramadan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD).
Kemudian, mengajari anak berpuasa secara bertahap. Seperti, saat masih di bangku taman kanak-kanak (TK), diajarkan puasa mulai habis subuh hingga pukul 09.00. Kemudian, berlanjut hingga dhuhur, ashar, dan magrib.
Ketika anak sudah naik jenjang SD, tingkatannya ditambah. Yakni, mulai sahur hingga dhuhur. Setelah itu, dilanjut sampai magrib. ’’Jangan lupa memberikan reward agar anak termotivasi untuk melaksanakan ibadah puasa,” tambah ibu dari siswa kelas 5 SD tersebut.
Terkait pembiasaan puasa kepada anak sejak dini, menurut Tutik, hal tersebut sangat luar biasa. Terlebih, lingkungan juga sangat berpengaruh. Mengingat, lingkungan dan keluarga menjadi faktor utama dalam pendukung anak untuk belajar puasa sejak dini. Terpisah, Psikolog Anak Agus Ari Afandi mengatakan, secara umum anak bisa diajarkan puasa mulai enam atau tujuh tahun. Tentu dengan pertimbangan ketika anak usia tersebut secara fisik dan psikis kognitif anak sudah bisa belajar makna puasa.
’’Hal perlu perhatikan untuk mengajarkan anak berpuasa tentu anak harus dalam kondisi sehat fisik maupun psikis,” ungkap Dosen STIKes Rajekwesi tersebut. Ari menjelaskan, yang pertama dilakukan untuk mengajarkan anak berpuasa dengan memberikan penjelasan sederhana tentang puasa.
Seperti puasa adalah kewajiban setiap muslim pada bulan Ramadan. Kedua orang tua memberikan contoh pelaksanaan ibadah puasa. Sehingga anak bisa meniru. Ketiga, pembelajaran puasa dilakukan secara bertahap.
Sehingga, sebagai latihan bisa dilakukan setengah hari. Jangan dipaksakan sehari penuh. Ketika sudah kuat berpuasa setengah hari durasi di tambah secara bertahap hingga bisa sehari penuh.
Menurut Ari, keempat bisa mengisi waktu ketika berpuasa dengan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat bersama anak. Orang tua bisa mengalihkan rasa lapar dan haus dirasakan anak melalui kegiatan menyenangkan. Seperti menggambar atau melukis. Tentu kegiatan dilakukan tidak menguras tenaga anak.
Kelima, perlu memperhatikan asupan nustrisi pada anak. Sehingga, kesehatan anak tetap stabil selama menjalankan puasa. Tentu asupan makanan ketika sahur dan buka puasa. Keenam, orang tua perlu memberikan pujian dan hadiah.
Terlebih anak-anak cenderung menyukai pujian dan hadiah. ’’Berikan apresiasi meski anak berpuasa setengah hari. Ini akan membuat anak bersemangat puasa di hari berikutnya,” jelasnya. (ewi/irv/bgs)
Editor : Hakam Alghivari