BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Pekembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kian pesat. Penggunaan di bidang pendidikan sudah dilakukan. Terutama untuk media pembelajaran. Seperti mentor virtual, voice asistant, dan smart content.
Namun perkembangan AI juga memunculkan keresahan. Tentu ketika siswa menggunakan AI untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Sehingga, guru harus memiliki cara untuk mendeteksi tugas yang dikerjakan AI atau siswa sendiri.
Para guru memiliki cara berbeda untuk menilai tugas dikerjakan AI atau siswa sendiri. Mulai dengan melakukan uji ulang di kelas maupun memanfaatkan detektor.
Waka Humas SMKN 2 Bojonegoro Tri Wahyuni mengatakan, ada guru yang resah maupun tidak dengan perkembangan AI. Keresahan guru karena kemungkinan merosotnya bahkan hilangnya daya kritis dan kreatif siswa. Sebab, terlalu mengandalkan AI. Selain itu, sebagian siswa jadi lebih malas untuk belajar.
Sedangkan, guru yang tidak resah, karena AI memberikan banyak manfaat. Salah satu manfaat AI yaitu sebagai sarana peningkatan kualitas pembelajaran dengan media pembelajaran yang menarik. Misalnya, dengan virtual reality, augmented reality, dan chatbot.
Juga dapat digunakan untuk penyusunan media visual yang lebih menarik bagi Gen Z seperti kombinasi Canva dan D-ID, hingga penggunaan anime AI. Selain itu, AI dapat membantu guru dalam menilai tugas dan ujian secara otomatis, mengurangi beban kerja guru, dan memungkinkan mereka untuk memberikan umpan balik yang lebih detail dan konstruktif kepada siswa.
’’Perkembangan AI sangat pesat, bahkan Google sudah memfasilitasi AI dengan Google Bard. Juga penggunaan untuk mentor virtual, voice asistant, dan smart content,” jelasnya. Tri menjelaskan, guru memiliki cara masing-masing menganalisis tugas hasil AI atau siswa sendiri.
Seperti penggunaan detektor AI dan cara diuji ulang saat evaluasi di sekolah. Selain itu, bila seorang guru benar-benar mengenali muridnya dengan baik pasti akan paham pengerjaan yang sempurna dari siswa sesuai dengan keseharian dan kemampuan siswa tersebut.
Sebenarnya, selama guru tetap mampu menjadi fasilitator belajar, adaptif dengan AI dan juga memastikan perkembangan keterampilan sosial emosional serta etika nilai manusia tidak perlu resah dan khawatir. ’’Intinya guru tetap harus jadi suri teladan,” jelasnya. Menurut Tri, sudah banyak webinar membahas AI. Juga berbagai tutorial penggunaan AI di YouTube.
Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Jatim Wilayah Bojonegoro-Tuban Agung Prijono mengatakan, belum mengetahui pasti guru dan siswa yang memanfaatkan AI. Namun, sekolah selalu didorong untuk mengikuti dan memanfaatkan teknologi. ’’Sebagai alat bantu guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Abdul Wahid mengatakan, bahwa di lingkup madrasah, kemenag mulai melakukan adaptasi perkembangan AI. Diawali dengan pelatihan peningkatan kapasitas yang diikuti 74 guru MTs dan MA. ’’Pernah digelar (pelatihan) di lingkup kemenag. Upaya peningkatan sumber daya manusia dalam teknologi,” terangnya. (irv/yna/dan/bgs)
Ancaman AI di Dunia Pendidikan: Minim Pelatihan bagi Guru
BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Masifnya perkembangan kecerdasan buatan di dunia pendidikan mengharuskan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Baik tenaga pendidik maupun kependidikan.
Khususnya guru. Sebab, jangan sampai kecanggihan teknologi menggeser peranan manusia. Namun, disesalkan pelatihan AI khusus untuk guru masih sangat minim.
’’Menurut saya pribadi, karena latar belakang TI (teknologi informasi), sudah memprediksi hal serupa. Ke depannya beberapa pekerjaan bakal tergantikan AI," jelas Guru Desain Komunikasi Visual dan Multimedia SMKN 1 Bojonegoro Anggraini Yussi kemarin (28/1).
Dia menuturkan, guru harus bisa memanfaatkan sebaik mungkin perkembangan AI untuk hal positif di dunia pendidikan. Sebab, teknologi diciptakan untuk dimanfaatkan, bukan menggantikan. Harus ada adaptasi antara guru dan perkembangan zaman terutama AI.
Menurut perempuan kerap disapa Yussi tersebut, sedikit banyak pelaku pendidikan telah melek teknologi dan menggunakannya. ’’Namun, dalam perkembangannya dan penggunaannya tetap saja masih ada kekurangan. Jadi, para guru khususnya tidak bisa mengandalkan AI saja," tuturnya.
Sehingga, ketika siswa menyalahgunakan AI bisa diketahui secara langsung olehnya. Lantaran, tugas dikerjakan sendiri atau dengan bantuan AI memiliki karakteristik berbeda. ’’Dikerjakan temannya saja, saya masih bisa bedakan. Karena tugas guru itu memahami karakteristik siswa,” tandasnya.
Perihal kasus plagiasi maupun manipulasi hasil pengerjaan AI, dia menyampaikan, belum menemui kasus demikian selama mengajar. Namun, ke depannya dia mengatakan, sudah bersiap untuk menangani hal tersebut.
Misal tugas membuat logo bisa menggunakan AI, penanganannya dengan membuat sketsa kasar terlebih dahulu. Menjelaskan maksud komponen di dalamnya kemudian proses digitalisasi. ’’Karena saya percaya kreativitas manusia tanpa batas,” ungkapnya.
Namun, disesalkan guna mencapai guru paham dan bisa memanfaatkan AI hingga kini belum ada pelatihan. Termasuk di tempatnya mengajar. Bahkan, menurutnya, masih ada guru belum mengetahui tentang apa itu AI.
Terpisah, dalam dunia pendidikan berbasis pondok pesantren (ponpes) masih minim memanfaatkan teknologi AI. Alasannya, sarana dan prasarana (sarpras) belum memadai. Guru Madrasah Aliyah (MA) Ponpes Sunan Drajat Kedungsantren Olivia mengatakan, sejauh ini belum memanfaatkan AI dalam pembelajaran.
Lantaran internet ponpes belum memungkinkan. Sehingga, kegiatan belajar mengajar (KBM) murni menggunakan proses tatap muka manual. Guru menjelaskan dan siswa mendengarkan. ’’Sebenarnya, sangat butuh agar guru tidak hanya menjelaskan dan menyebabkan lingkungan belajar bosan,” tuturnya.
Dosen Ilmu Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro Usman Roin menyampaikan, bahwa ada sebagian mahasiswa yang sudah memanfaatkan AI. ’’Yang saya tahu seperti membuat makalah, resume. Meski dosen juga menekan agar hasil pikiran sendiri tetap didahulukan, AI sifatnya sekadar membantu,” ungkapnya.
Menurutnya, meski memang tidak ada aturan khusus terkait penggunaannya dan pemanfaatannya masih sebatas membuat kerangka sebuah tugas. Namun, ia dapat melihat karya AI dengan hasil kreativitas sendiri masih dapat dibedakan. ’’Mahasiswa yang murni menggunakan AI misalnya dalam makalah, akan diketahui dosen dari hasil pekerjaannya,” terangnya. (yna/dan/bgs)
Bermanfaat, Tapi Bikin Ketergantungan
Perkembangan teknologi AI dinilai bermanfaat bagi sebagian siswa maupun mahasiswa. Sebab, memudahkan dalam mencari materi hingga menghilangkan kejenuhan. Tapi, juga bikin ketergantungan.
Namun, tidak menutup kemungkinan rerata siswa menyalahgunakannya untuk menyontek. ’’Sering banget sih cari jawaban di Google,” beber salah satu siswi SMP Negeri Bojonegoro Kayla Greysia Putri kemarin (28/1).
Dia melanjutkan, rerata penggunaan Google Images, dengan unggah foto dimanfaatkan untuk mencari jawaban atau menyontek. Namun, di sisi lain adanya perkembangan AI menurutnya, membuat pelajaran tidak membosankan hanya dengan penjelasan tatap muka dari gurunya.
Dia mengatakan, kelebihan menggunakan AI yakni, tidak menggunakan kertas dan membuat pelajaran lebih menarik. ’’Pakai AI enak sih, agar pembelajaran tidak membosankan,” ujarnya. Dia menyampaikan, rerata media digunakan yakni Google Classroom serta Google Form.
Sementara itu, Dina Ayu Firnanda siswi sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan sangat bermanfaat untuk pembelajaran. Meski dalam program kejuruannya tidak selalu menggunakan AI.
Terpsah, Alvia Mustafidatus salah satu mahasiswa asal Desa Ngunut, Kecamatan Dander mengatakan, dengan menggunakan AI semua menjadi praktis dan serba bisa. ’’Menggunakan AI sejak sekolah hingga kuliah. Paling sering menggunakan chat generative pre-training transformer (GPT),” ujarnya.
Selain memudahkan kehidupan sehari-hari, menurut Alvia, kemalasan yang timbul dalam diri menjadi suatu tantangan tersendiri di tengah penggunaan AI. Tersedianya beragam hal yang dibutuhkan menjadikan sikap ketergantungan terhadap teknologi.
Sehingga, membuat seseorang terkadang tidak mau berkembang. ’’Apa yang kita butuhkan tinggal AI, mencari sesuatu larinya ke AI. Jadi, membuat ketergantungan. Antara manfaat dan tantangan sebanding,” kata mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.
Cantika mahasiswa Universitas Bojonegoro mengatakan, AI sangat membantu tugas atau pekerjaan di berbagai bidang. Namun, perlu diwaspadai. Agar peran manusia tidak tergantikan dengan mesin seiring dengan berjalannya waktu.
Meski tergolong canggih, namun terkadang terdapat beberapa kendala dalam penggunaan AI. Seperti, kurang akuratnya informasi yang disajikan hingga lambat karena banyaknya pengakses. ’’Cukup sering menggunakan AI. Seperti, Chat GPT, Canva, Google Classroom, dan sebagainya,” ucapnya.
Agnesya mahasiswa asal Desa/Kecamatan Dander mengatakan, di tengah masihnya AI menimbulkan kemalasan. Seperti, malas membaca buku. Mengingat, adanya AI menyediakan banyak informasi dan pengetahuan baru.
Seolah-olah menggeser buku dan membuat seseorang tergantung dengan AI. “Banyak kalangan semakin jarang malas membaca buku. Selain itu, banyak hal negatif lainnya yang tidak pantas dikonsumsi khalayak umum tertampilkan dalam penggunaan AI,” lanjutnya. (yna/ewi/bgs)
Editor : Hakam Alghivari