BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Membesarnya flare atau suar bakar di lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem sempat menghebohkan warga di Kecamatan Ngasem, Kamis (11/1).
Sebab, aktivitas flare yang tak seperti biasanya disertai suara gemuruh, membuat warga berhamburan keluar rumah.
Selain di desa Bandungrejo, suara flare hingga terdengar di Desa Dukuh Kidul, Desa Ngadiluwih, dan Desa/Kecamatan Ngasem.
Adanya aktivitas flare, membuat warga di kawasan ring 1 itu mempertanyakan mitigasi, sebab rerata warga belum mengetahui.
‘’Untuk titik evakuasi wilayah Ngasem itu kemana? Karena sampai hari ini belum tahu,” ungkap Andi, salah satu warga Desa/Kecamatan Ngasem.
Menurutnya, perlu adanya kewaspadaan jika terjadi hal-hal tak diinginkan, seperti ledakan dan penyebaran gas H2S. Hal itu, mestinya perlu ada perhatian penuh, karena menyangkut keselamatan jiwa.
Kepala Desa (Kades) Bandungrejo, Kecamatan Ngasem Sapani mengungkapkan, kejadian pada Kamis (11/1) malam, terjadi sekitar pukul 19.30 hingga 23.30. Menurutnya, membesarnya flare tersebut sudah tiga kali terjadi. Pihaknya, juga telah mendapat informasi dari Pertamina EP Cepu (PEPC) selaku operator.
‘’Kalau di Bandungrejo malah gak ada suara bising yang terdengar malah dari Desa Ngasem, Dukoh Kidul,” terangnya.
Sementara itu, Manager ComRel CID PEPC Rahmat Drajat menjelaskan, bahwa pembesaran flare merupakan serangkaian kegiatan untuk menaikkan kapasitas produksi.
Selain itu, dalam keterangan tertulis, juga membenarkan adanya dampak perubahan rona suara, dan flare di sekitar lokasi. ‘’Namun masih dalam kapasitas normal operasi JTB,” terangnya.
Selain itu, dia mengklaim dalam menjalankan operasi tersebut telah mengacu pada standar operasional prosedur (SOP). ‘’Yang mengedepankan aspek keselamatan, dengan tim siap siaga untuk mendukung kelancaran operasi,” pungkasnya. (dan/msu)
Dorong Kesejahteraan Warga di Sekitar Lapangan Migas
Kesejahteraan warga sekitar kawasan minyak bumi dan gas (migas) perlu perhatian. Manajer Lembaga Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Akmaluddin Rachim mengatakan, hasil penjajakan awal di dua desa ring 1 migas yakni Campurejo, Kecamatan Kota, dan Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, dan mencatat sejumlah temuan, khususnya dari sisi kesejahteraan, sosial, pendidikan, dan kesehatan.
‘’Desa-desa di ring satu kegiatan indstri migas, perlu mendapat perhatian serius,” terangnya.
Selain itu, perlu adanya dukungan dari berbagai lini agar keberadaan industri migas di Bojonegoro berdampak bagi masyarakat. Sebab dengan adanya industri hulu migas, masyarakat harusnya dapat hidup terjamin dan lebih baik lagi. “Perlu dukungan penguatan dan peningkatan kapasitas, khususnya pemahaman tentang apa dan bagaimana industri migas,” ujarnya.
Berdasarkan gambaran awal, tim riset masih menemukan berbagai kendala, seperti permasalahan hukum dan kemungkinan masih adanya kesenjangan.
Selain itu, perlu adanya penguatan kapasitas, baik dari sisi masyarakatnya maupun aparatur pemerintahan desa. ‘’Pushep akan mengkaji lebih dulu temuan-temuan yang diketahui dan dikumpulkan,” pungkasnya.
Kegiatan riset tersebut disambut oleh Kepala Desa (Kades) Campurejo, khususnya dalam memahami regulasi hak warga terdampak. Terlebih, selama ini harapan warga dalam memperoleh sejumlah program kegiatan, baik pembangunan, ekonomi, dan sosial masih menjadi isapan jempol.
‘’Lebih fokus mitigasi kebencanaan dan membuat program.” Ungkap Kades Campurejo Edi Sampurno). (dan/msu)
Editor : Hakam Alghivari