Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo menegaskan bahwa gempa terjadi di Bojonegoro bukan dipicu adanya pengeboran minyak. Namun, disebabkan adanya pergeseran sesar aktif Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS). Bahkan, potensi gempa terjadi di kawasan Bojonegoro bisa mencapai magnitudo 6.0.
Menurut Amien, saat ini yang harus dilakukan pemerintah daerah terdapat sesar RMKS harus melakukan mitigasi bencana gempa. Salah satunya, melakukan pemetaan kawasan berisiko gempa. Sebab, potensi gempa hingga M6 bisa terjadi. ''Gempa tidak membunuh, tetapi bangunan bisa (merusak),” katanya kepada Jawa Pos Rabu (14/6).
Itu sebabnya, menurut Amien, kawasan berisiko gempa atau sudah mengalami gempa berulang-ulang harus mulai didesain bangunan baik infrastruktur, gedung, maupun hunian atau rumah tinggal tahan gempa. Sebab, korban manusia tidak bisa terhindarkan karena keruntuhan bangunan.
''Penelitian kegempaan di suatu kawasan harus menjadi pertimbangan perencanaan tata ruang,” jelasnya.
Menurut Amien, gempa disebabkan pergeseran sesar aktif RMKS. Di Selat Madura Sumenep pernah terjadi gempa magnitude 6.0. Karena itu, penyebab utamanya karena sesar aktif RMKS. Sesar tersebut melewati arah barat ke timur dengan panjang 675 kilometer dari area Rembang, Pulau Madura, Kepulauan Kangean hingga Sakala di bagian timur.
''Jadi, memang adanya pergeseran sesar aktif menyebabkan terjadinya gempa di wilayah sekitarnya,” ujarnya.
rhananta, ahli geologi asal Bojonegoro mengatakan, dalam konteks gempa tektonik, potensinya pasti tetep ada, karena posisi geologi Bojonegoro unik berada di zona sesar Kendeng dan sesar RMKS. Namun ya sebatas gempa kecil. Namun untuk potensi gempa sampai bergoyang, masih seperti tahun-tahun sebelumnya yang sangat amat jarang,” ungkapnya.
Brilliananto Maranditya ahli geologi mengatakan, secara ilmiah gempa terjadi Senin pagi di Bojonegoro tidak terkait dengan kegiatan sumur minyak. Dilihat dari hiposentrum dan episentrum gempa, itu termasuk gempa dangkal. Diprediksi aktivitas sesar lokal di wilayah Bojonegoro. (ayu/dan/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto