Perempuan asal Kelurahan Mojokampung, Kecamatan Kota tersebut sudah 3,5 tahun tinggal di Sudan. Mendapat beasiswa pendidikan. Menginjak semester delapan, harusnya menjadi semester akhir sebelum kelulusan. Terpaksa harus pulang terlebih dahulu ke tanah air akibat perang.
Beruntung, seminggu sebelum konflik berkecamuk tepat di kotanya, sudah meninggalkan Sudan. ‘’Pada 5 April pergi, tepat 15 April mendengar kabar ada tembakan di Sudan,‘’ tutur dia.
Nakhwah tidak ada rencana mengungsi ke Arab Saudi sebelum peristiwa tersebut, hanya ingin mengisi waktu libur kuliah melaksanakan umrah. Apalagi dua negara tetangga dibatasi oleh Laut Merah. Namun, mendengar kabar konflik, merasa khawatir, apalagi di kampusnya sempat menjadi area perang.
‘’Jalur darat sudah ditutup, bahkan bandara sudah terkena bom,” bebernya.
Sebelum konflik memuncak, akses internet hingga listrik sering mati terutama setiap ada unjuk rasa. Di tengah konflik militer, dirinya merasa bersyukur saat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memberi tiket gratis kepulangan.
Sebelum dipulangkan, Nakhwah dan warga negara Indonesia (WNI) lainnya pergi ke daerah aman, yakni Porsudan. Lalu menuju Jeddah. ‘’Sebelum pulang, sudah menempuh perjalanan sekitar 20 jam,” tutur mahasiswi jurusan hadits tersebut.
Senin lalu (1/5) Nakhwah tiba di tanah air. Dibawa ke Asrama Haji Sukolilo Surabaya dicek kesehatannya. Sampai di Bojonegoro, Rabu (3/5) dijemput tim badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Kepulangan Nakhwah masuk kloter empat atau terakhir.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Agus Purnomo mengatakan, selain Nakhwah Hamidah juga terdapat satu lagi WNI asal Bojonegoro lain yaitu, Sulthan Abiyyu Al May warga Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, yang dipulangkan ke tanah air. (dan/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto