Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Di Laut Bisa Dimakan Ikan, di Darat Menyuburkan Tanah

M. Yusuf Purwanto • Senin, 24 April 2023 | 14:00 WIB
Slamet Supriyadi Mahasiswa S-2 di Korea Selatan Ubah Kulit Singkong Jadi Plastik. (IST/RDR.BJN)
Slamet Supriyadi Mahasiswa S-2 di Korea Selatan Ubah Kulit Singkong Jadi Plastik. (IST/RDR.BJN)

Diprediksi pada 2050 plastik akan memenuhi daratan dan lautan. Slamet Supriyadi melakukan penelitian tentang Plastik biodegradable. Plastik ini saat di laut bisa menjadi makanan ikan dan plankton. Saat berada di darat menyuburkan tanah. (BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro)


WORLD Economic Forum memprediksi, jika tidak ada perubahan mendasar dalam konsumsi dan produksi plastik, pada 2050 akan lebih banyak plastik di laut daripada ikan. ‘’Selain merusak terumbu karang, plastik juga membunuh zooplankton dan fitoplankton,” tutur Slamet Supriyadi.

Slamet sapaannya pun khawatir ancaman lingkungan tersebut. Bisa membahayakan kehidupan manusia, karena 60 persen oksigen di bumi diproduksi di laut. Mahasiswa S-2 sustainable development, forest and environment policy di Yeungnam University, Korea Selatan, tersebut  bikin terobosan. Mengubah kulit singkong menjadi plastik ramah lingkungan atau biodegradable yang dikombinasikan dengan teknologi nano.

Pemuda asa Desa/Kecamatan Bubulan, Bojonegoro, itu mengangkat tema proyek penelitian itu saat mengikuti event Saemaul International Forum 2022. ‘’Alhamdulillah proyek saya terpilih dan diadopsi program Official Development Assistance NH Bank akan diterapkan dalam pembangunan ekonomi di Asia Tenggara,” ujarnya melalui sambungan WhatsApp.

Plastik biodegradable memiliki kelebihan dibanding plastik konvensional sendiri. Yakni tidak mudah merusak laut dan menurunkan kesuburan tanah. Plastik biodegradable saat berada di laut bisa menjadi makanan ikan dan plankton. Lalu saat berada di darat menyuburkan tanah. Bahkan bisa dimakan hewan ternak karena terbuat dari saripati kulit singkong.

‘’Karena plastik memiliki ikatan kimia panjang dan kompleks, dibutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk mengurai di alam. Jadi plastik biodegradable bisa jadi solusi,” ujarnya.

Adapun kombinasi teknologi nano guna memudahkan mikroba dalam tanah mengurai plastik. Biasanya plastik konvensional membutuhkan puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Namun, dengan teknologi nano hanya butuh waktu sekitar 4 hingga 8 minggu.

Dibuatnya dengan mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer ke dalam bahan kemasan plastik polietilen (PE) atau polipropilen (PP) hingga 70 persen. ‘’Selain ramah lingkungan, plastik biodegradable lebih kuat dan lebih ringan,” tutur mahasiswa ditunjuk Ketua Angkatan Sustainable Development, Forest and Environment Policy di Fakultas Park Chung Hee School of Policy and Saemaul (PSPS) 2022-2023. (*/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto
#sampah plastik #lingkungan #penelitian #laut #biodegradable