Di utara Sungai Bengawan Solo tersebut menjadi sentra jajanan ringan atau camilan. Keriuhan orang berburu camilan sebagai pendamping menu berbuka. Setiap gerobak atau stan pedagang pasti ada antrean.
Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro Jumat (24/3), sasaran pembeli rerata pedagang es buah atau es cincau. Ada pedagang es buah secara prasmanan, tampak dagangannya sudah hampir habis. Lalu pedagang camilan seperti pentol dan sempol dikerubungi anak kecil hingga remaja. Tak sedikit satu keluarga mampir ke sentra jajanan itu sambil berjalan-jalan.
‘’Ada juga pedagang mainan atau balon, jadi mengajak anak-anak biar senang,” ujar Sulistyo.
Sulistyo bersama anak istrinya saat membeli mainan juga sudah menenteng jajanan. Ia usai membeli gorengan dan es buah. ‘’Bagi warga sekitar memang belum lengkap kalau jelang buka puasa tidak mampu di Jembatan Malo,” jelasnya.
Kepala Desa (Kades) Malo Sujito mengatakan, bazar selama Ramadan tahun ini ditempatkan di halaman pertokoan UMKM Lumbung Kamulyan. ‘’Area pertokoan itu di atas lahan tanah kas desa (TKD) Malo dan baru diresmikan tahun ini,” tuturnya. Setidaknya ada 50 pedagang berjualan.
Menurutnya, dengan konsep bazar terpusat bisa mengurangi kemacetan di sepanjang Jembatan Malo. ‘’Sebelum dipusatkan, jelang berbuka itu benar-benar macet tidak bisa jalan karena pedagang berjualannya di bahu jalan,” ujarnya.
Menurut dia, geliat perekonomian di momen Ramadan lumayan bagus. ‘’Adapun pedagang berjualan di halaman pertokoan itu dari Kecamatan Malo dan Kalitidu,” jelasnya. (bgs/rij)