Kebanyakan pabrik tahu didominasi industri rumahan. Sebagian besar memanfaatkan sungai sebagai pembuangan limbah. Hal ini banyak mengganggu lingkungan sungai, hingga warga merasakan bau tidak sedap di sekitar sungai.
Suyono salah satu produsen tahu mengatakan, pengelolaan limbah selama ini memanfaatkan tangki septik (septictank) atau dibuang ke sungai. ‘’Kebanyakan pabrik tahu di pinggir sungai. Jika air sungai deras, sisa tahu dialirkan ke sungai,” bebernya.
Menurut dia, limbah selama ini masih ada yang dibuang ke sungai. Hingga saat ini belum ada penyuluhan terkait pengelolaan limbah.
Prasetyo salah satu warga Desa Kuncen mengatakan, sungai di desanya mulai tercium bau tidak sedap selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya ini karena produsen tahu semakin bertambah. ‘’Dulu bau menyengat belum terlalu, tapi tiga atau empat tahun terakhir usaha tahu semakin banyak,” bebernya.
Menurut dia, aktivitas produksi tahu banyak mencemari sungai, karena ikan-ikan sudah tidak ada lagi. ‘’Kalau mancing harus ke dusun sebelah. Karena orang-orang sudah meyakini kalau ikan di sini sudah tidak ada lagi,” tambahnya.
Kepala Dusun Rowobayan Mukarom mengatakan, sudah pernah mengadakan pelatihan mengenai pengelolaan limbah, namun tidak semua bersedia menjalankan. Kali terakhir sudah dimasukkan dalam rencana kerja pemerintah desa (RKPDes) tentang limbah. ‘’Ada yang sudah diaplikasikan, namun ada juga yang macet,” ujarnya. (dan/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto