BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Ratusan keris dan benda pusaka lainnya berjejer rapi di atas meja. Benda-benda berusia ratusan tahun ini diikutkan pameran kemarin (16/10). Benda pusaka itu berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Ketua Paguyuban Agni Bojonegoro Mas Yayan mengatakan, pusaka-pusaka ini berasal dari zaman kerajaan hingga zaman modern. Tidak hanya dari Jawa Timur, namun juga dari Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Rata-rata yang dipamerkan adalah keris.
‘’Mulai buatan perajin hingga buatan empu,’’ ujar pria asli Balen ini.
Yayan menjelaskan, keris buatan perajin dan empu memiliki perbedaan mencolok. Mulai bahan hingga kualitasnya.
Keris buatan perajin berasal dari bahan jadi. Yakni, besi lempengan atau besi olahan. Perajin tidak perlu lagi mengolah bahan. Tinggal menempa besi untuk menjadi keris. Sehingga, bisa produksi banyak dalam waktu singkat.
Sedangkan keris buatan empu terbuat dari bahan mentah. Seperti pasir besi, batu besi, hingga batu meteor. Kemudian dicampur baja. Prosesnya pun cukup lama. Bisa beberapa minggu bahkan bulan. ‘’Itu membuat kualitas dan harganya juga berbeda,’’ jelasnya ditemui di MCM Hotel.
Selain pemeran, juga digelar bursa. Para pemilik pusaka bisa menjualnya. Itu untuk mendukung ekonomi kreatif. ‘’Juga ada jamasan untuk mengenalkan ke masyarakat peninggalan budaya. Sehingga, Tetap lestari, harum, dan dikenal,’’ jelasnya.
Selain keris, juga ada barang antik berusia ratusan tahun. Seperti perabot dan patung. ‘’Pusaka kan tidak hanya senjata. Barang-barang lainnya yang berusia ratusan tahun juga bisa jadi pusaka,’’ ujar Arifin, salah satu peserta pemeran.
Pusaka-pusaka yang berusia ratusan tahun dari zaman kerajaan itu didapatkan secara turun-temurun. Bukan temuan. Karena itu, bentuknya masih utuh. ‘’Kalau temuan pasti sudah rusak. Biasanya temuan itu kan terpendam,’’ jelasnya. (zim/msu) Editor : M. Yusuf Purwanto