Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda Subkoodinator Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Bambang Wahyudi mengatakan, mahalnya harga tembakau disebabkan pasokan tembakau tidak banyak. Di sisi lain, stok tembakau di pabrikan juga menipis.
‘’Itu semua membuat harga tembakau menjadi bagus,’’ jelasnya.
Tahun ini tanaman tembakau memang tidak banyak. Biasanya di tahun-tahun sebelum ada 21 kecamatan di Bojonegoro menanam tembakau. Namun, tahun ini hanya 14 kecamatan yang ada tanaman tembakaunya. Itu terjadi karena curah hujan yang tinggi hingga Agustus lalu. Sehingga, banyak petani tidak berani menanam tembakau.
Minimnya petani menanam, ternyata saat ini mengerek harga jual tembakau rajangan menjadi tinggi. ‘’Saat ini petani benar-benar senang dengan harga yang bagus ini,’’ jelasnya.
Saat ini petani sudah memasuki petik ketiga dan keempat. Biasanya, tembakau akan dipetik hingga enam kali. Harga petikan terakhir biasanya cenderung menurun.
Tahun ini target luas areal tanam tembakau adalah 11.200 hektare. Jumlah itu terdiri atas 9.000 hektare jenis Virginia dan sisanya jenis Jawa. Target itu bakal sulit terealisasi karena banyak petani tidak bertanam.
‘’Kalau target jelas sulit tercapai. Kalau harga jual saat ini bagus sekali,’’ jelasnya. (zim/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto